Antam Guncang Pasar: Harga Perak Turun, Emas Merosot, dan Dividen Jumbo Rp5 Triliun Menggebrak Investor
Blog Berita daikin-diid – 10 Juni 2026 | PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menjadi sorotan utama di pasar logam mulia dan sekuritas pada Rabu, 10 Juni 2026. Harga perak Antam mengalami penurunan signifikan sebesar Rp1.600 per gram, mencatat Rp44.050, sementara harga perak dunia juga tertekan pada US$64,18 per troy ounce, turun 1,73 persen. Penurunan tersebut dipicu oleh gejolak geopolitik pasca serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran yang memicu kekhawatiran inflasi dan menguatnya harga minyak.
Antam menawarkan tiga varian perak batangan: 250 gram, 500 gram, dan butiran murni 99,95 persen. Harga batangan 250 gram kini berada pada Rp11.537.500, sedangkan batangan 500 gram dihargai Rp22.150.000. Penurunan harga perak ini berdampak pada nilai portofolio investor yang memiliki aset logam mulia, terutama yang mengandalkan perak sebagai lindung nilai.
Sementara itu, harga emas Antam juga kembali turun. Menurut data logammulia.com, harga jual emas per gram pada hari yang sama berada di Rp2.713.000, menurun Rp20.000 dari perdagangan sebelumnya yang berada di Rp2.733.000. Harga buyback emas, yakni harga yang ditawarkan Antam untuk membeli kembali emas dari nasabah, juga menurun lebih tajam menjadi Rp2.487.000 per gram, turun Rp40.000. Penurunan ini menandai penurunan berkelanjutan sejak puncak harga tertinggi pada 29 Januari 2026, ketika emas Antam mencapai Rp3.168.000 per gram.
Di sisi lain, Antam mengumumkan pembagian dividen tunai yang sangat menggiurkan. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada hari yang sama menyetujui distribusi dividen sebesar Rp5,04 triliun, setara dengan 70 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Dividen ini menghasilkan pembayaran sebesar Rp210 per saham, memberikan yield dividen sekitar 7,2 persen berdasarkan harga saham Antam pada intraday Rabu, yang diperdagangkan di sekitar Rp2.930 per lembar. Meskipun demikian, pada penutupan perdagangan hari itu, saham Antam mengalami koreksi teknis dan turun 4,5 persen menjadi Rp2.750 per lembar.
Keputusan pembagian dividen ini didukung oleh lonjakan laba bersih perusahaan sebesar 98 persen menjadi Rp7,2 triliun pada tahun fiskal 2025. Manajemen Antam menargetkan ekspansi operasional pada tahun 2026, termasuk pemenuhan kuota penambangan nikel sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt) dan peningkatan volume penjualan emas batangan yang diharapkan menyamai rekor tertinggi tahun 2024 sebesar 1,4 juta ons. Analis Kiwoom Sekuritas menilai prospek nilai perusahaan tetap kuat, dengan rekomendasi beli dan target harga jangka panjang Rp4.800 per lembar, didasarkan pada valuasi gabungan DCF (60 persen) dan EV/EBITDA (40 persen). Proyeksi rasio PE untuk tahun 2026 diperkirakan mencapai 12,9 kali, sementara PBV diprediksi 2,9 kali, menandakan valuasi yang masih menarik.
Namun, risiko tetap mengintai. Analis memperingatkan potensi gangguan rantai pasok, fluktuasi harga bahan bakar komersial, serta volatilitas harga emas dan perak dunia yang dapat memengaruhi margin perusahaan. Investor disarankan untuk memantau perkembangan geopolitik, khususnya dinamika di Timur Tengah, yang dapat memicu pergerakan harga logam mulia secara tiba-tiba.
Secara keseluruhan, hari Rabu 10 Juni 2026 menandai kombinasi dinamika pasar yang kompleks bagi Antam: penurunan harga perak dan emas yang menurunkan nilai aset fisik, sekaligus pembagian dividen jumbo yang meningkatkan daya tarik saham di kalangan investor yang mengincar pendapatan pasif. Keputusan manajemen untuk mengalokasikan laba bersih yang signifikan sebagai dividen menunjukkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang perusahaan, meski dihadapkan pada tantangan eksternal yang tidak dapat diprediksi. Bagi pemegang saham dan calon investor, keputusan investasi di Antam harus mempertimbangkan keseimbangan antara potensi keuntungan dari dividen tinggi dan risiko volatilitas harga komoditas yang tetap tinggi.