Ancelotti Gairahkan Brazil: Kebangkitan Vinicius, Kembalinya Neymar, dan Persiapan Menuju Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Blog Berita daikin-diid – 26 Juni 2026 | CARLO ANCELLOTTI, pelatih asal Italia yang berusia 67 tahun, kini memimpin Selecao Brasil menuju fase gugur Piala Dunia 2026 setelah mencatatkan kemenangan telak 3-0 atas Skotlandia di Hard Rock Stadium, Miami. Pertandingan yang berlangsung pada Rabu (25/6) menjadi saksi dua sorotan utama: penampilan gemilang Vinícius Júnior yang mencetak dua gol serta debut kembali Neymar setelah 981 hari absen karena cedera panjang.
Sejak mengangkat dirinya sebagai pelatih Brasil lebih dari satu tahun lalu, Ancelotti sempat menghadapi kritik akibat kekalahan tipis melawan Maroko. Namun, dua kemenangan beruntun melawan Haiti (3-0) dan Skotlandia (3-0) berhasil mengembalikan kepercayaan publik. Suasana di tribun pun berubah, dengan pendukung yang mayoritas mengenakan jersey kuning memberikan ovasi hangat setiap kali nama Ancelotti disebut.
Vinícius Júnior, yang sebelumnya berkarier gemilang bersama Real Madrid di bawah asuhan Ancelotti (2021-2025), kembali menunjukkan kelas dunia dengan mencetak gol pada setiap pertandingan grup Brasil. Dalam laga melawan Skotlandia, ia menambah dua gol – satu dari tendangan bebas dan satu lagi melalui sundulan jarum‑jarum – mempertegas peranannya sebagai penyerang paling produktif tim. Ancelotti memuji Vini sebagai “salah satu yang terbaik di dunia” dan menekankan bahwa kontribusi golnya bukan kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan adaptasi taktis yang terus dipertajam.
Namun, sorotan tak hanya terpaku pada Vini. Pada menit ke‑72, Ancelotti memanggil Neymar (nomor 10) sebagai pengganti Matheus Cunha. Kembalinya legenda Santos ini menjadi momen emosional bagi ribuan suporter yang menanti penampilan pertamanya di Piala Dunia sejak Oktober 2023. Meskipun hanya bermain selama 14 menit, Neymar menunjukkan semangat anak kecil yang tak pernah padam, bergerak dengan kelincahan dan memberikan umpan-umpan berbahaya. Pelatih asal Italia memuji proses rehabilitasi sang bintang, menyatakan, “Dia pulih dengan sangat baik, memiliki profesionalitas tinggi, dan layak bermain untuk tim.”
Selain Vini dan Neymar, pemain muda Rayan juga mendapat pujian dari Ancelotti. Dipanggil menggantikan Raphinha yang cedera, Rayan (punggung nomor 26) menunjukkan kontribusi defensif dan ofensif yang seimbang, termasuk membantu terciptanya gol pertama. Ancelotti menilai Rayan memiliki kedewasaan luar biasa untuk usianya, menambahkan bahwa “siapa pun belum tahu seberapa tinggi potensi ia dapat melaju.”
Strategi taktik Ancelotti tampak semakin solid. Ia menekankan pentingnya ritme permainan, kontrol bola, dan kecepatan transisi. Pada konferensi pers usai laga, ia mengakui perbaikan signifikan tim: “Kami membuat lebih sedikit kesalahan dibandingkan pertandingan pertama, memiliki lebih banyak ritme, dan lebih efektif di lini depan.” Pernyataan tersebut menegaskan tekadnya untuk menjaga kekompakan tim dalam fase 32 besar, yang dijadwalkan akan berlangsung di Houston pada 29 Juni melawan peraih runner‑up Grup F (kemungkinan Belanda, Jepang, atau Swedia).
Adaptasi budaya juga menjadi nilai plus bagi Ancelotti. Ia belajar bahasa Portugis dan lagu kebangsaan Brasil dalam hitungan bulan, sehingga tercipta ikatan emosional dengan suporter. “Saya suka bahwa saya benar‑benar menyelam ke dalam budaya Brasil,” kata Caio Monteiro, seorang pendukung setia dari Belo Horizonte. Hubungan ini tampak membuahkan hasil, karena pemain dan staf melaporkan suasana latihan yang harmonis serta semangat kebersamaan yang tinggi.
Secara keseluruhan, keberhasilan Brasil di fase grup menandai titik balik bagi Ancelotti. Dari masa-masa awal yang dipenuhi keraguan, kini ia telah menemukan formula yang memadukan pengalaman klub bergengsi (Real Madrid, Milan) dengan bakat muda Brasil. Kemenangan 3-0 tidak hanya memperkuat posisi Brasil sebagai pemimpin Grup C, tetapi juga menegaskan kemampuan Ancelotti mengelola talenta kelas dunia seperti Vinícius, Neymar, dan Rayan sekaligus menumbuhkan generasi baru.
Dengan soliditas yang semakin terbukti, Brasil kini menatap babak gugur dengan keyakinan. Ancelotti menutup konferensi pers dengan catatan optimis, “Kami tidak sempurna, masih ada ruang untuk perbaikan, tetapi tim kini lebih solid. Di babak selanjutnya, soliditas menjadi sangat penting.” Harapan besar mengiringi langkah mereka, sementara suporter Brasil menanti aksi selanjutnya di Houston, berharap tim asuhan Ancelotti dapat menyalakan kembali semangat juara yang sudah lama dinantikan.