Dua ART Loncat dari Kos Benhil, Satu Tewas Usai Cedera Parah, Korban Asal Brebes dan Batang
Blog Berita daikin-diid – 26 April 2026 | Jakarta Pusat – Pada malam Rabu (22 April 2026) dua asisten rumah tangga (ART) yang baru bekerja di sebuah rumah kos di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, melompat dari lantai empat bangunan tersebut. Salah satu korban, seorang remaja berusia 15 tahun asal Batang, Jawa Tengah, tewas di tempat kejadian. Sementara korban kedua, berusia sekitar tiga puluh tahun dan berasal dari Brebes, mengalami patah tangan serta luka-luka lain dan masih dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo.
Kos yang menjadi lokasi tragedi berada di Jalan Bendungan Walahar Buntu No. 32. Bangunan empat lantai itu memiliki balkon berterali pada tiga lantai pertama dan dinding berterali pada lantai paling atas. Pada sisi kiri bangunan terdapat tanda nomor 1 dan 2 yang menandai tempat jatuhnya kedua korban. Sebuah pos keamanan terletak di depan, namun tidak ada saksi mata yang melihat secara langsung aksi melompat.
Warga sekitar, termasuk Nani (68 tahun) yang membantu evakuasi, menjelaskan bahwa kedua korban baru bekerja beberapa hari hingga tiga bulan di kos tersebut. “Yang satu baru seminggu bekerja, itu yang masih hidup. Yang satunya sudah tiga bulan di sini,” ungkap Nani. Identitas korban yang selamat dapat dikonfirmasi melalui KTP yang ditemukan di dalam tasnya, memperlihatkan nama dan alamat di Brebes. Identitas korban yang meninggal belum terungkap sepenuhnya, namun pihak berwenang mengonfirmasi bahwa ia berasal dari Batang.
Menurut saksi, kedua korban tampak enggan menjawab pertanyaan tentang alasan melompat. “Mereka hanya diam, menahan rasa sakit,” kata Nani. Salah satu saksi menambahkan bahwa korban dari Brebes sempat merintih dan memegang bagian belakang badan serta tangannya yang tampak patah. Ambulans tiba beberapa menit kemudian dan membawa kedua korban ke rumah sakit terdekat.
Polisi Metro Jakarta Pusat dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah membuka penyelidikan dugaan tindak pidana. Kombes Iman Imanuddin, Dirkrimum Polda Metro Jaya, menyatakan timnya sedang mengumpulkan bukti dan keterangan dari saksi serta agen penyalur tenaga kerja. “Kami masih menyelidiki motif dan kemungkinan adanya penahanan paksa di kamar kos,” ujar Kombes Iman.
Kapolsek Metro Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, menegaskan bahwa salah satu korban yang meninggal berusia 15 tahun. “Usia 15 tahun sangat menyedihkan. Kami akan memastikan penyelidikan berjalan profesional dan adil,” kata Dhimas dalam konferensi pers pada Jumat (24/4/2026). Pihak kepolisian juga berencana memanggil agen penyalur ART untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut.
Keluarga korban di Batang mengadakan rumah duka di Desa Ngroto, Kecamatan Reban. Ribuan warga berkumpul memberikan dukungan moral, menata kursi, dan menyiapkan kebutuhan keluarga. Ayah korban, Raudin (37 tahun), tampak terpukul, tidak mampu mengungkapkan perasaannya. Sekretaris desa, Suwandi, menjelaskan bahwa motivasi korban bekerja di Jakarta didorong oleh kebutuhan ekonomi dan keinginan mandiri pada usia muda.
Pihak pengelola kos belum memberikan pernyataan resmi. Namun, saksi melaporkan bahwa korban sempat dikurung di kamar kos sebelum melompat, meskipun polisi belum dapat memastikan hal tersebut.
Kasus ini menambah daftar insiden serupa yang melibatkan pekerja migran domestik di Jakarta. Organisasi hak pekerja mengingatkan pentingnya perlindungan hukum, pengawasan kontrak kerja, dan akses bantuan bagi ART yang mengalami tekanan atau perlakuan tidak manusiawi.
Dengan investigasi yang masih berlangsung, masyarakat berharap pihak berwenang dapat menemukan fakta lengkap, menegakkan pertanggungjawaban, serta memperkuat mekanisme perlindungan bagi pekerja rumah tangga yang rentan.