Tangis Haru Calon Siswa Sekolah Rakyat: Aljabar Nur Menangis di Pundak Seskab Teddy, “Saya Mau Sekolah, Pak”
Blog Berita daikin-diid – 24 April 2026 | Jakarta, 23 April 2026 – Kunjungan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya ke calon Sekolah Rakyat di kompleks Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Pejompongan menjadi sorotan utama media nasional setelah seorang calon siswa, Aljabar Nur, meneteskan air mata di pundak sang pejabat. “Saya mau sekolah, Pak,” ujar Aljabar dengan suara bergetar, menegaskan keinginannya mengenyam pendidikan yang selama ini terhalang oleh keterbatasan ekonomi.
Acara yang dipimpin bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf pada Rabu (22/4/2026) mempertemukan lebih dari 70 calon siswa dari berbagai jenjang, mulai SD hingga SMA, yang mayoritas berasal dari keluarga miskin ekstrem. Para anak tersebut, termasuk Aljabar yang merupakan anak kelima dari enam bersaudara, biasanya membantu keluarga dengan mengamen di wilayah Klender, Jakarta Timur. Pada hari itu, Aljabar muncul di panggung dengan mata berkaca-kaca, menolak menahan tangis ketika menyampaikan harapannya.
“Tidak apa‑apa, jangan menangis. Di sini nanti semua belajar dengan baik, mendapatkan penginapan dan gizi yang layak,” ujar Teddy sambil menepuk pundak Aljabar. Penanganan pribadi seperti ini menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak sekadar menyampaikan data, melainkan beraksi langsung di lapangan. Analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) memuji pendekatan Teddy sebagai contoh komunikasi publik yang efektif dan sederhana. Menurutnya, “Tidak banyak pejabat yang mau turun langsung untuk melihat kondisi riil di lapangan. Ini penting disoroti karena jarang ada yang melakukannya.”
Gaya komunikasi Teddy yang “tanpa pidato panjang, tanpa data berlebihan” mendapat pujian karena menonjolkan kehadiran yang terasa autentik. “Action dulu, baru bicara,” tegas Hendri, menambahkan bahwa pola ini mencerminkan perbaikan dalam komunikasi Istana belakangan ini. Ia menekankan bahwa konsistensi kehadiran pejabat di masyarakat akan membangun kepercayaan organik yang sulit digoyahkan.
Penunjukan Teddy sebagai Duta Sekolah Rakyat juga telah resmi diumumkan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) pada Kamis (23/4/2026). Gus Ipul menjelaskan bahwa penunjukan ini bukan keputusan sepihak, melainkan hasil permintaan bersama guru, kepala sekolah, dan bahkan para siswa. “Kami minta beliau menjadi duta Sekolah Rakyat sejak awal berdirinya program ini,” ujar Gus Ipul. Peran duta tersebut lebih bersifat ikon komunikasi publik, membantu memperkenalkan, menjelaskan, serta memberi semangat kepada seluruh pemangku kepentingan.
Dalam kunjungan tersebut, Teddy juga menyampaikan harapan Presiden Prabowo Subianto kepada para calon siswa dan orang tua. “Keinginan Bapak Presiden adalah agar seluruh anak Indonesia memiliki cita‑cita dan kesempatan melalui pendidikan yang layak,” kutipan dari akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet. Teddy menyoroti masih banyaknya anak putus sekolah yang tinggal di dekat pusat pemerintahan, menambah urgensi program Sekolah Rakyat.
Secara teknis, Sekolah Rakyat direncanakan menampung 100 siswa dari keluarga tidak mampu, menyediakan fasilitas belajar, asrama, dan gizi yang memadai. Pemerintah melibatkan berbagai kementerian, termasuk Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Kementerian PAN‑RB, untuk menyusun regulasi yang mendukung pelaksanaan program. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi turut berperan dalam penyusunan regulasi tersebut.
Reaksi publik terhadap momen haru tersebut cukup positif. Banyak netizen yang memuji kebijakan Teddy yang “menyentuh langsung” serta mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengatasi masalah putus sekolah. Di media sosial, foto Teddy memeluk Aljabar menjadi viral, memperkuat citra pemerintah yang peduli pada anak‑anak kurang mampu.
Kesimpulannya, kunjungan Teddy ke calon Sekolah Rakyat tidak hanya menyoroti tantangan pendidikan bagi anak‑anak miskin, tetapi juga menunjukkan evolusi cara pemerintah berkomunikasi dengan publik. Dengan mengutamakan aksi nyata, mendengarkan langsung aspirasi anak, serta menempatkan diri sebagai duta program, Teddy memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam menyediakan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Related Posts
Insiden Cedera dan Permintaan Maaf Hubner di Laga Fortuna Sittard vs NAC Breda Pecahkan Klasemen Eredivisie
Fenerbahçe Bangkit di Kuartal Tiga, Target Transfer Mahrez, dan Ambisi Saran untuk Dominasi Liga
John Ternus Resmi Gantikan Tim Cook sebagai CEO Apple, Era Baru Inovasi Teknikal Dimulai
About The Author
Fairley Kaneesa
Kalau bukan karena terobsesi mengatur kabel di pabrik, Fairley Kaneesa lebih suka menelusuri lorong‑lorong Tangerang dengan kamera, sambil mengumpulkan buku‑buku sejarah yang lebih tua daripada Wi‑Fi di rumahnya. Karier menulisnya mulai meletup pada 2012, saat ia memutuskan bahwa rumus teknik bisa dijadikan bahan satire dalam novel‑novelnya. Sekarang, antara memotret kebisingan jalanan dan mengotak‑atik mesin, ia menulis sambil sesekali mengoreksi fakta sejarah yang ternyata lebih dramatis daripada drama Korea.