The Fed Pertahankan Suku Bunga, Bagaimana Dampaknya terhadap Perekonomian Global?
Blog Berita daikin-diid – 31 Juli 2026 | Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2026. Keputusan ini tidak mengejutkan karena telah sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Namun, hasil pemungutan suara yang terbelah 9 berbanding 3 menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral Amerika Serikat mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Respons pasar Bitcoin terhadap keputusan tersebut relatif terbatas. Bitcoin cenderung bertahan setelah hasil FOMC diumumkan, mencerminkan bahwa keputusan The Fed telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan data ekonomi yang akan menjadi acuan arah kebijakan moneter berikutnya.
Di sisi lain, dolar AS melemah pada perdagangan sebelumnya dan memberi ruang bagi emas untuk naik. Pergerakan ini datang setelah pasar mencerna dua sinyal yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, yield Treasury AS tenor 10 tahun masih berada di sekitar 4,66 persen, level yang membuat sebagian investor tetap berhati-hati terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Faktor utama hari ini masih datang dari Amerika Serikat. Federal Reserve pada 29 Juli mempertahankan kisaran suku bunga acuan di 3,50-3,75 persen. Pernyataan resmi The Fed menyebut aktivitas ekonomi masih tumbuh solid, tetapi inflasi tetap lebih tinggi dari target 2 persen. Tiga pejabat bahkan memilih kenaikan 25 basis poin, tanda bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang dari meja kebijakan.
Bagi emas, kombinasi ini agak rumit. Pelemahan dolar biasanya membuat emas lebih murah bagi pembeli non-AS dan mendukung harga. Namun yield yang tinggi menaikkan biaya peluang memegang emas. Itu sebabnya harga bisa bertahan kuat, tetapi tidak otomatis bergerak lurus naik.
Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga Bank Indonesia (BI) akan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.
Destry menyoroti keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), yang kembali menahan suku bunga acuannya dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) beberapa hari lalu. Meski suku bunga tidak berubah, Destry menilai pernyataan Ketua The Fed menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat.
Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama atau higher for longer. Suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Menurut Destry, situasi tersebut akan berdampak pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, BI dan pemerintah harus menyesuaikan kebijakan agar mampu menjaga stabilitas ekonomi.
Di tengah gejolak global, Bank Indonesia (BI) tetap menjaga kestabilan rupiah dan inflasi. Destry memastikan BI tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Kesimpulan dari keputusan The Fed dan dampaknya terhadap perekonomian global adalah bahwa suku bunga yang dipertahankan akan mempengaruhi stabilitas ekonomi dan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, perlu kebijakan yang tepat untuk menghadapi tantangan ini dan menjaga stabilitas ekonomi.