Pertamax Tetap Stabil di Tengah Penurunan Harga BBM Lain: Apa Penyebabnya?
Blog Berita daikin-diid – 19 Juli 2026 | Harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi kembali menjadi sorotan publik pada pertengahan Juli 2026. Meskipun beberapa jenis BBM mengalami penurunan tarif, harga Pertamax tetap stabil pada Rp16.250 per liter, menandakan adanya kebijakan khusus dari Pertamina.
Sejak 1 Juli 2026, Pertamina menurunkan harga beberapa varian BBM non‑subsidi. Harga Pertamax Turbo turun menjadi Rp19.300 per liter dari Rp20.750 sebelumnya. Dexlite mengalami penurunan signifikan menjadi Rp19.700 per liter, turun dari Rp23.000. Sedangkan Pertamina Dex berkurang menjadi Rp21.150 per liter, dibandingkan harga lama Rp24.800. Harga Pertalite juga tetap pada Rp10.000 per liter. Sementara itu, Pertamax dan Pertamax Green tidak mengalami perubahan harga sejak penyesuaian terakhir pada 10 Juni 2026.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa penyesuaian tarif ini merupakan bagian dari evaluasi berkala yang mengacu pada dinamika pasar minyak dunia, pertimbangan fiskal, serta daya beli masyarakat. “Penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada mekanisme yang berlaku dan telah dikoordinasikan dengan pemerintah,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Para pakar ekonomi menambahkan bahwa keputusan untuk mempertahankan harga Pertamax merupakan contoh strategi “price smoothing”. Menurut mereka, strategi ini bertujuan menjaga margin keuntungan Pertamina setelah mengalami penurunan akibat fluktuasi harga minyak internasional yang tinggi pada awal tahun. Dengan menstabilkan harga premium seperti Pertamax, perusahaan dapat menghindari tekanan margin yang berlebihan sambil tetap menawarkan varian yang lebih terjangkau melalui penurunan tarif pada produk lain.
| Jenis BBM | Harga Sebelum 1 Juli 2026 | Harga Setelah 1 Juli 2026 |
|---|---|---|
| Pertamax | Rp16.250 | Rp16.250 |
| Pertamax Turbo | Rp20.750 | Rp19.300 |
| Pertamax Green | Rp17.000 | Rp17.000 |
| Pertalite | Rp10.000 | Rp10.000 |
| Dexlite | Rp23.000 | Rp19.700 |
| Pertamina Dex | Rp24.800 | Rp21.150 |
Dampak kebijakan ini terasa di lapangan. Di Karanganyar, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Lia (20 tahun) mengaku pernah menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk mengisi Pertalite di SPBU. “Antrean panjang mengganggu aktivitas saya, sehingga saya beralih membeli BBM di pertamini yang lebih dekat,” katanya kepada TribunStyle pada 18 Juli 2026. Kasus Lia mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang tidak lagi sekadar mengejar harga terendah, melainkan juga mempertimbangkan efisiensi waktu.
Fenomena antrean panjang di SPBU tetap berlangsung meskipun tarif beberapa jenis BBM telah turun. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan harga belum sepenuhnya mengurangi beban konsumen, terutama di daerah dengan infrastruktur pengisian bahan bakar yang terbatas. Menurut observasi lapangan, konsumen kini lebih cenderung mencari alternatif seperti pertamini atau mengisi BBM di jaringan pom bensin yang lebih sedikit antriannya.
Secara keseluruhan, kebijakan harga Pertamina pada Juli 2026 menampilkan dua pola utama: penurunan tarif pada varian non‑premium untuk meredam beban biaya hidup, dan stabilisasi harga pada varian premium seperti Pertamax untuk menjaga margin perusahaan. Kebijakan ini diperkirakan akan terus dipantau oleh regulator dan konsumen, terutama menjelang akhir tahun ketika harga minyak dunia diprediksi akan kembali berfluktuasi.