Harga Emas Hari Ini Menguat: Antam Naik Rp8 Ribu, Spot Dunia Turun 1,1%
Blog Berita daikin-diid – 18 Juli 2026 | Pasar logam mulia kembali menjadi sorotan pada Sabtu, 18 Juli 2026, setelah harga emas dunia naik 1,1% menjadi US$4.015,09 per ons. Kenaikan tersebut terjadi meski dalam seminggu terakhir emas mencatat penurunan terbesar sejak awal Juni, dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Di dalam negeri, harga emas 24 karat pada hari ini menunjukkan tren naik, dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menaikkan harga jualnya sebesar Rp8.000 menjadi Rp2.614.000 per gram.
Sementara itu, harga spot emas dunia yang sempat menembus level terendah sejak 1 Juli kembali menguat, didorong oleh pergerakan kontrak berjangka Agustus yang naik 0,7% menjadi US$4.018,80 per ons. Penurunan 3% dalam seminggu terakhir menandai tekanan yang cukup signifikan, terutama setelah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah menambah beban inflasi global. Kondisi ini menimbulkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memperketat kebijakan moneter, yang pada gilirannya memengaruhi permintaan safe‑haven seperti emas.
Berikut rangkuman harga emas 24 karat pada tanggal 18 Juli 2026 di tiga institusi utama di Indonesia:
| Institusi | Harga Jual (per gram) | Harga Buyback (per gram) |
|---|---|---|
| Antam | Rp2.614.000 | Rp2.349.000 |
| Pegadaian | sekitar Rp2.610.000 | sekitar Rp2.345.000 |
| Hartadinata | sekitar Rp2.612.000 | sekitar Rp2.347.000 |
Data di atas mencerminkan bahwa ketiga lembaga tersebut berada dalam rentang harga yang sangat bersaing, dengan selisih hanya beberapa ribu rupiah. Harga buyback Antam mengalami lonjakan signifikan sebesar Rp16.000, mencapai Rp2.349.000 per gram, menandakan upaya perusahaan untuk menarik kembali emas dari nasabah setelah periode penurunan harga sebelumnya.
Faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas hari ini dapat dirangkum dalam poin-poin berikut:
- Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang meningkatkan permintaan aset safe‑haven.
- Kenaikan harga minyak mentah, yang berimbas pada inflasi global.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, yang biasanya menurunkan daya tarik emas sebagai aset non‑bunga.
- Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang memengaruhi harga impor logam mulia.
- Sentimen pasar domestik, termasuk kebijakan pemerintah terkait perdagangan emas dan pembelian kembali (buyback) oleh lembaga resmi.
Pak Andy Nugroho, perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, menegaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen investasi berisiko rendah bagi investor konservatif. “Emas memberikan perlindungan nilai terhadap inflasi dan volatilitas pasar saham, namun tetap ada risiko fisik seperti kehilangan atau pencurian,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa selisih antara harga jual dan buyback menjadi faktor penting bagi investor yang mempertimbangkan likuiditas jangka pendek.
Analisis para pelaku pasar menunjukkan bahwa meskipun harga emas dunia masih berada di level relatif rendah dibandingkan puncaknya tahun sebelumnya, tren kenaikan di pasar domestik dapat menjadi sinyal bahwa permintaan lokal tetap kuat. Faktor utama yang mendorong kenaikan harga Antam hari ini adalah penyesuaian setelah penurunan signifikan sebesar Rp27.000 per gram pada hari sebelumnya, serta upaya Antam untuk menjaga kestabilan margin buyback.
Secara keseluruhan, harga emas hari ini mencerminkan interaksi kompleks antara dinamika geopolitik, kebijakan moneter global, dan sentimen investor domestik. Bagi masyarakat yang mempertimbangkan untuk berinvestasi atau menjual emas, penting untuk memantau pergerakan harga spot dunia, kebijakan suku bunga AS, serta kebijakan buyback yang ditetapkan oleh lembaga resmi seperti Antam, Pegadaian, dan Hartadinata. Dengan memahami faktor‑faktor tersebut, keputusan investasi dapat diambil dengan lebih terinformasi.