Embun Upas Bikin 30 Hektar Ladang Kentang Dieng Hancur, Kerugian Rp 2,1 Miliar
Blog Berita daikin-diid – 11 Juli 2026 | Fenomena embun es atau yang dikenal sebagai embun upas kembali melanda Dataran Tinggi Dieng pada 9‑10 Juli 2026, menimbulkan kerusakan masif pada lahan pertanian kentang seluas 25‑30 hektar. Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Ady, suhu malam yang turun drastis hingga mencapai minus 6 derajat Celsius menyebabkan kristal es menempel pada tanah dan daun, membuat tanaman yang masih muda mengalami kebekuan fatal.
Lokasi terdampak meliputi area Lapangan Pandawa, area parkir dan kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, serta Kompleks Setyaki di Desa Dieng Kulon. Tanaman kentang yang berusia sekitar 40 hari ke bawah tidak dapat diselamatkan setelah terkena embun upas, sehingga para petani mengalami gagal panen total. Perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 70 juta per hektar, sehingga total kerugian diperkirakan mencapai Rp 2,1 miliar.
Petani setempat berupaya mengurangi dampak dengan melakukan penyiraman intensif pada siang dan sore hari, berharap uap air dapat menurunkan intensitas penurunan suhu di pagi hari. Selain itu, sebagian petani menutup bedengan menggunakan paranet atau menumpuk daun bambu sebagai pelindung sementara. Meski upaya tersebut menunjukkan semangat gotong‑royong, mereka belum mampu menghentikan kerusakan luas yang terjadi selama dua hari berturut‑turut.
Berikut langkah‑langkah darurat yang telah diterapkan petani:
- Penyiraman rutin pada jam 10.00‑15.00 untuk meningkatkan kelembapan udara.
- Penutupan bedengan dengan paranet atau anyaman bambu.
- Pengawasan terus‑menerus oleh tim DPPKP bersama kelompok tani.
Tim DPPKP kini tengah melakukan pemutakhiran data lapangan secara real‑time, bekerja sama dengan pemerintah desa dan kelompok tani untuk merencanakan program mitigasi lanjutan. Salah satu rencana utama adalah penyediaan bantuan benih unggul yang lebih tahan terhadap suhu ekstrem serta pelatihan teknik pertanian konservatif yang dapat mengurangi risiko kerusakan serupa di masa depan.
Para petani diperkirakan baru dapat menyiapkan lahan kembali pada September 2026, setelah musim hujan berakhir dan suhu mulai menghangat. Pada periode tersebut, mereka berharap dapat menanam kembali bibit kentang dengan harapan hasil panen pulih dan mengembalikan pendapatan yang hilang.
Fenomena embun upas memang sudah menjadi bagian siklus iklim di dataran tinggi Dieng, terutama pada musim kemarau. Namun, intensitas dan frekuensi kejadian dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani dan pihak berwenang. BMKG menegaskan bahwa embun upas bukanlah salju, melainkan proses pembentukan kristal es pada suhu rendah yang dapat terjadi secara tiba‑tiba.
Dengan total kerugian mencapai miliaran rupiah, dampak ekonomi tidak hanya dirasakan oleh petani individual, melainkan juga mengganggu rantai pasokan regional, mengurangi pasokan kentang di pasar lokal, dan berpotensi meningkatkan harga komoditas tersebut.
Kesimpulannya, embun upas di Dieng pada awal Juli 2026 menimbulkan kerusakan signifikan pada lahan kentang seluas 30 hektar, menyebabkan kerugian ekonomi sekitar Rp 2,1 miliar. Upaya mitigasi yang dilakukan petani dan DPPKP belum cukup untuk menghentikan kerusakan, sehingga diperlukan dukungan lebih lanjut berupa teknologi pertanian tahan dingin, bantuan finansial, dan koordinasi lintas sektor untuk memulihkan produksi pertanian di wilayah tersebut.