Drama Penalti, Racisme Online, dan Nasib Tijjani Reijnders: Belanda Tersingkir di Piala Dunia 2026
Blog Berita daikin-diid – 01 Juli 2026 | Timnas Belanda mengalami kegagalan pahit pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah dalam adu penalti melawan Maroko di Stadion Monterrey, Guadalupe, Meksiko, pada 29 Juni 2026. Gol pertama Belanda dicetak oleh Cody Gakpo pada menit ke‑72, namun gol penyama kedudukan Maroko datang lewat Issa Diop pada menit tambahan. Setelah perpanjangan waktu berakhir dengan skor 1‑1, kedua tim melaju ke serangkaian tembakan penalti yang berakhir dengan kemenangan dramatis Maroko berkat tendangan terakhir Ismael Saibari.
Keputusan taktik pelatih Ronald Koeman menjadi sorotan utama. Koeman menolak formasi tradisional “Total Football” 4‑3‑3 yang biasa dipakai, dan beralih ke formasi defensif 5‑2‑3 dengan opsi berubah menjadi 3‑4‑3 saat menyerang. Dalam perubahan ini, pemain tengah berpengalaman Tijjani Reijnders, yang biasanya menjadi starter bersama Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberc, digantikan untuk pertama kalinya dalam turnamen. Nathan Ake, bek Manchester City, dimasukkan ke lini belakang bersama Virgil van Dijk dan Jan Paul van Hecke, sementara Micky van de Ven diposisikan sebagai fullback kiri. Keputusan tersebut menuai kritik dari sebagian pengamat yang menilai kehilangan kreativitas di lini tengah mengurangi kemampuan Belanda mengontrol permainan.
Setelah kekalahan, para pemain, termasuk Reijnders, tampak kecewa namun tetap profesional. Reijnders mengakui bahwa keputusan Koeman “sulit” namun ia menghormati taktik pelatih demi kepentingan tim. “Saya selalu siap membantu apa pun yang dibutuhkan tim, baik di lapangan maupun di bangku cadangan,” ujarnya dalam wawancara pasca pertandingan.
Sementara sorotan taktik, asosiasi sepak bola Belanda (KNVB) harus menghadapi gelombang ujaran kebencian daring yang mengarah pada beberapa pemain. KNVB secara resmi mengutuk aksi rasisme online yang muncul setelah timnya tereliminasi. Dalam pernyataan resmi, KNVB menegaskan bahwa “rasisme dan diskriminasi tidak memiliki tempat dalam sepak bola, baik secara daring maupun di masyarakat.” Pernyataan tersebut menekankan komitmen asosiasi untuk melindungi pemain dari ancaman diskriminatif dan menindak pelaku sesuai regulasi FIFA.
Kasus rasisme online ini mencerminkan tren negatif yang sering muncul setelah tim nasional mengalami kegagalan di turnamen besar. Beberapa akun media sosial menyebarkan komentar bernada rasial terhadap pemain Belanda, termasuk Gakpo dan Reijnders. KNKNV bekerja sama dengan platform digital untuk mengidentifikasi dan menonaktifkan akun-akun yang melanggar kebijakan anti‑rasisme.
Di sisi lain, keberhasilan Maroko dalam adu penalti menambah catatan sejarah. Ismael Saibari, yang mengeksekusi tendangan penentu, menunjukkan ketenangan mental yang luar biasa. Penampilan Maroko menegaskan evolusi sepak bola Afrika Utara yang kini mampu menantang tim tradisional Eropa di panggung dunia.
Secara statistik, Belanda mencatat penguasaan bola sebesar 58 % selama pertandingan, menembakkan 14 tembakan dengan 5 di antaranya tepat sasaran. Maroko, meski berada di zona pertahanan, berhasil mencatat 9 tembakan dengan 3 tepat sasaran. Kedua tim masing‑masing melakukan satu pelanggaran kartu kuning, tanpa adanya kartu merah.
- Gol Belanda: Cody Gakpo (72’) – assist tidak tercatat
- Gol Maroko: Issa Diop (90+2’) – assist dari tim
- Penalti sukses Maroko: Ismael Saibari (penalti penentu)
- Pemain yang digantikan: Tijjani Reijnders (tidak bermain)
- Pernyataan KNVB: Penolakan tegas terhadap rasisme online
Ke depan, fokus Belanda beralih pada proses rehabilitasi mental pemain dan evaluasi taktik. Ronald Koeman diperkirakan akan meninjau kembali skema formasi, terutama peran gelandang tengah yang selama ini menjadi tulang punggung serangan. Sementara itu, KNVB berjanji meningkatkan program edukasi anti‑rasisme bagi suporter dan mengoptimalkan kerja sama dengan otoritas hukum untuk menindak pelaku.
Kesimpulannya, kegagalan Belanda di Piala Dunia 2026 bukan hanya soal hasil di lapangan, melainkan juga tantangan sosial yang harus dihadapi. Dari keputusan taktik yang kontroversial, peran terbatas Tijjani Reijnders, hingga serangan kebencian daring, semua menjadi bagian dari narasi yang menuntut perubahan. Dengan dukungan institusi dan tekad pemain, harapan tetap ada untuk bangkit kembali pada kompetisi internasional berikutnya.