Lahti vs Turun: Kompetisi Digitalisasi Pendidikan dan Kebijakan Alkohol Mengubah Wajah Kedua Kota
Blog Berita daikin-diid – 24 Juni 2026 | Ketika Turun akhirnya mengaktifkan sistem belajar digital Digione yang sempat tertunda, kota asal Lahti yang juga tergabung dalam proyek bersama lima munisipalitas menatap langkah serupa. Kedua kota kini bersaing tidak hanya dalam bidang olahraga atau pariwisata, tetapi dalam adopsi teknologi pendidikan serta penyesuaian kebijakan alkohol yang baru disahkan oleh Parlemen.
Digione, platform pembelajaran dan komunikasi yang dikembangkan bersama oleh Turun, Vantaa, Jyväskylä, Oulu, dan Lahti, dijadwalkan pertama kali diterapkan di Sekolah Paattisten di Turun pada awal liburan musim panas. Menurut Timo Jalonen, kepala layanan pendidikan Turun, tujuan utama adalah memperluas penggunaan sistem ini ke semua sekolah sebelum liburan musim dingin. Namun, proyek ini mengalami keterlambatan dua tahun dan anggaran yang melonjak lebih dari dua kali lipat, mencapai 28 juta euro pada November 2024. Turun telah menambahkan dana sekitar 45 000 euro tahun ini, sementara kontribusi Lahti masih dirahasiakan karena alasan kerahasiaan bisnis.
Lahti, sebagai salah satu anggota pendiri, menghadapi tantangan serupa. Kota ini mengakui bahwa sistem lama Wilma yang berusia tiga dekade tidak lagi memenuhi kebutuhan modern, terutama dalam pembuatan ujian elektronik dan integrasi data. Lahti menyoroti perlunya standar yang seragam di antara kota anggota, mengingat masing‑masing memiliki model operasional yang berbeda, seperti proses penerimaan siswa. Penyelarasan ini memakan waktu dan menjadi salah satu penyebab utama penundaan.
Sementara itu, perubahan hukum alkohol yang baru disetujui pada 23 Juni menambah dimensi kompetisi antara Lahti dan Turun. Parlemen mengizinkan penjualan alkohol secara daring, pengiriman ke rumah, serta perpanjangan jam operasional Alko, termasuk pembukaan toko pada hari Minggu. Dampak kebijakan ini dirasakan secara langsung di kedua kota, di mana toko Alko berencana memperluas jam buka hingga pukul 21.00 setiap hari.
Berikut adalah beberapa poin utama kebijakan alkohol baru yang akan memengaruhi Lahti dan Turun:
- Pengiriman alkohol ke rumah diizinkan dengan verifikasi usia dan tanpa keadaan mabuk pada penerima.
- Alko dapat beroperasi pada hari Minggu di 35 toko terpilih, termasuk cabang di Lahti dan Turun.
- Jam operasional akhir pekan diperpanjang, memungkinkan layanan hingga pukul 21.00.
- Penjualan alkohol melalui toko ritel lokal dibatasi pada minuman dengan kadar alkohol maksimal 8 % untuk bir dan 5,5 % untuk minuman lainnya.
Implementasi kebijakan ini dipandang sebagai upaya untuk menyamakan lapangan bermain antara Alko dan pengecer lain, seperti supermarket, yang sebelumnya memiliki jam buka lebih fleksibel. Kari Pennanen, Direktur Bisnis Alko, menekankan bahwa keputusan jam buka tetap akan disesuaikan dengan kebutuhan lokal, tetapi kebijakan baru memberikan ruang lebih besar bagi kota untuk menyesuaikan layanan dengan pola konsumsi warga.
Persaingan antara Lahti dan Turun kini meluas ke dua arena utama: digitalisasi pendidikan dan regulasi alkohol. Kedua kota berupaya mengoptimalkan manfaat Digione untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sementara mereka menyiapkan strategi penyesuaian pasar alkohol yang lebih responsif terhadap perubahan perilaku konsumen.
Secara keseluruhan, Lahti dan Turun menunjukkan dinamika perubahan kota modern di Finlandia, di mana inovasi teknologi dan kebijakan publik saling berinteraksi. Keberhasilan masing‑masing akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengelola anggaran, menyeimbangkan kebutuhan warga, serta memastikan keamanan dan kualitas layanan.
Ke depan, pengamat menilai bahwa kompetisi sehat antara kedua kota dapat mempercepat adopsi solusi digital yang lebih efektif serta kebijakan alkohol yang lebih bertanggung jawab, menjadikan Finlandia contoh dalam mengintegrasikan teknologi dan regulasi untuk kepentingan publik.