Sarpreet Singh Dilirik PSM Makassar: Dari Wellington Phoenix ke Panggung Dunia
Blog Berita daikin-diid – 22 Juni 2026 | Wellington Phoenix FC meluncurkan gelandang serang berbakat asal Selandia Baru, Sarpreet Singh, sebagai salah satu nama yang kini menjadi perbincangan hangat di dunia sepak bola Asia Tenggara. Rumor transfer muncul setelah klub PSM Makassar mengumumkan penunjukan Darije Kalezic sebagai pelatih baru, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Singh di Wellington Phoenix dan FK TSC.
Menurut unggahan akun Instagram @transfermarkt_psm, pihak manajemen PSM sedang mendekati pemain yang pernah berkolaborasi dengan Kalezic, menandakan ketertarikan klub terhadap Singh. Meskipun kini Singh baru mencatat dua penampilan resmi bersama Phoenix tanpa mencetak gol, nilai pasar pemain muda ini dilaporkan mencapai Rp8,69 miliar, menjadikannya salah satu aset bernilai tinggi di pasar transfer regional.
Sarpreet Singh tidak hanya menonjol di level klub. Pada Piala Dunia FIFA 2026, ia menorehkan sejarah sebagai pemain Sikh pertama yang tampil di turnamen terbesar sepak bola dunia. Pada laga pembukaan grup G melawan Iran di Los Angeles, Singh memulai pertandingan sebagai starter dan memperlihatkan kemampuan teknis serta ketahanan fisik yang mengesankan, meskipun Indonesia belum memiliki perwakilan di turnamen tersebut.
Karier Singh dimulai di lingkungan futsal di South Auckland, Selandia Baru, setelah ayahnya mendorongnya untuk menghindari bahaya rugby. Bakatnya terpupuk di Wellington Phoenix, kemudian menarik perhatian Bayern Munich yang mengundang Singh ke akademi mereka. Sayangnya, serangkaian cedera menghambat prosesnya, sehingga Singh kembali ke tanah kelahirannya dan berjuang membangun kembali kariernya di level profesional.
Keputusan PSM Makassar untuk menargetkan Singh tidak lepas dari strategi peningkatan kualitas skuad. Klub yang baru saja menggandeng Darije Kalezic berharap kombinasi taktik pelatih baru dan pengalaman internasional Singh dapat mengangkat performa tim di Liga 1 Indonesia. PSM juga berencana menempatkan Singh sebagai penggerak serangan, memanfaatkan kemampuannya dalam mengatur tempo permainan serta menciptakan peluang bagi rekan satu tim.
- Profil pemain: usia 24 tahun, posisi gelandang serang, tinggi 1,78 m.
- Pengalaman klub: Wellington Phoenix (A-League), latihan di Bayern Munich.
- Nilai pasar: Rp8,69 miliar.
- Prestasi internasional: pemain Sikh pertama di Piala Dunia 2026.
Di sisi lain, rumor ini menimbulkan perdebatan di kalangan penggemar PSM Makassar. Sebagian menilai bahwa menginvestasikan dana besar untuk pemain yang belum memiliki catatan gol di level tertinggi berisiko, sementara yang lain memandangnya sebagai langkah ambisius untuk mengangkat standar kompetisi domestik.
Selain Singh, PSM juga dikabarkan sedang menyiapkan perekrutan pemain lain yang pernah bekerja sama dengan Kalezic, menandakan pendekatan holistik dalam membangun tim yang selaras dengan filosofi pelatih baru. Jika transfer ini terwujud, PSM akan menjadi klub pertama di Indonesia yang berhasil merekrut pemain yang pernah bermain di A-League sekaligus menjadi bagian dari sejarah Piala Dunia.
Keputusan akhir masih menunggu klarifikasi resmi dari kedua belah pihak. Namun, satu hal yang pasti, nama Sarpreet Singh kini berada di antara topik yang paling banyak diperbincangkan di media sepak bola Indonesia, menandakan besarnya minat publik terhadap potensi pemain muda berbakat yang memiliki jejak internasional.
Apapun hasilnya, langkah PSM Makassar untuk mengincar Singh menunjukkan evolusi pasar transfer Indonesia yang semakin terbuka pada pemain dengan pengalaman luar negeri, sekaligus menegaskan ambisi klub untuk bersaing di level tertinggi kompetisi domestik.
Related Posts
Drama Memukau di Stadion Sapporo: Kyoto Sanga Tumbang di Kandang Sanfrecce Hiroshima
Cavaliers vs Raptors Game 6: Kunci Kemenangan, Cedera, dan Prediksi Penutup Seri
USM Alger Raih Gelar Kedua Confederation Cup lewat Drama Penaltian 8-7 di Kairo
About The Author
Fairley Kaneesa
Kalau bukan karena terobsesi mengatur kabel di pabrik, Fairley Kaneesa lebih suka menelusuri lorong‑lorong Tangerang dengan kamera, sambil mengumpulkan buku‑buku sejarah yang lebih tua daripada Wi‑Fi di rumahnya. Karier menulisnya mulai meletup pada 2012, saat ia memutuskan bahwa rumus teknik bisa dijadikan bahan satire dalam novel‑novelnya. Sekarang, antara memotret kebisingan jalanan dan mengotak‑atik mesin, ia menulis sambil sesekali mengoreksi fakta sejarah yang ternyata lebih dramatis daripada drama Korea.