FTSE dan Sensex Bergeser: Rebalancing Besar, Lensa Baru, dan Tekanan Pasar Global
Blog Berita daikin-diid – 20 Juni 2026 | London – Pada hari Jumat, 19 Juni 2026, dua indeks pasar saham terkemuka dunia, FTSE dan Sensex, melaksanakan penyesuaian (rebalancing) yang diproyeksikan menimbulkan aliran dana signifikan dan mengubah bobot saham utama. Penyesuaian tersebut akan berlaku efektif mulai 22 Juni 2026, setelah diumumkan oleh Nuvama Alternative & Quantitative Research, Bursa Efek Bombay (BSE) dan Bloomberg.
FTSE, indeks global yang dikelola oleh FTSE Russell, menambahkan tujuh saham baru ke dalam komponennya. Penyertaan ini diperkirakan menggerakkan aliran dana institusional asing pasif (FII) ke India lebih dari US$600 juta, didorong oleh penambahan perusahaan-perusahaan yang baru saja mencatatkan diri di bursa. Daftar lengkap saham yang masuk ke FTSE meliputi Lenskart Solutions, Groww, Tata Capital, ICICI Prudential Asset Management, LG Electronics India, Meesho, dan Tenneco Clean Air India. Prediksi aliran dana untuk masing‑masing saham dapat dilihat pada tabel berikut:
| Saham | Aliran Dana (US$ juta) | Jumlah Saham (juta) |
|---|---|---|
| Lenskart Solutions | 89 | 16.7 |
| Groww | 84 | 39.4 |
| Tata Capital | 76 | 20.7 |
| ICICI Prudential AMC | 68 | 1.9 |
| LG Electronics India | 66 | 3.9 |
| Meesho | 49 | 26.9 |
| Tenneco Clean Air India | 20 | 3.3 |
Sementara itu, pada sisi indeks FTSE yang sudah ada, bobot beberapa saham mengalami peningkatan, antara lain Bharti Airtel, Adani Enterprises, IndusInd Bank, Eicher Motors, AB Capital, Poonawalla Fincorp, Samman Capital, UltraTech Cement, HDB Financial Services, Apollo Hospitals, CG Power, Vishal Mega Mart, dan ITC Hotels. Di sisi lain, saham-saham seperti Adani Ports, Bajaj Finance, Maruti Suzuki India, HCLTech, Tata Steel, Avenue Supermarts, Prime Focus Ltd., BPCL, Adani Wilmar, Usha Martin, ICICI Lombard General Insurance, Jindal Stainless, TVS Holdings, dan Escorts Kubota akan mengalami penurunan bobot dalam indeks FTSE.
Di pasar domestik India, penyesuaian pada Sensex lebih terfokus. Dua saham – Bharti Airtel dan Eternal – akan melihat kenaikan bobot, sementara empat saham – Maruti Suzuki India, HDFC Bank, Reliance Industries Ltd., dan ICICI Bank – akan mengalami penurunan bobot. Bharti Airtel diproyeksikan menerima aliran dana sebesar US$95 juta untuk 4,8 juta saham, sedangkan Eternal diperkirakan menarik US$5 juta untuk 1,7 crore saham.
Di sisi lain, pasar saham London (FTSE 100) membuka hari dengan penurunan 6 poin, berada di level 10.394. Indeks ini dipengaruhi oleh data pinjaman publik yang melampaui perkiraan serta data penjualan ritel Inggris yang lebih kuat dari ekspektasi. Harga komoditas energi juga berfluktuasi; Brent naik 0,49% menjadi US$80,24 per barel, sementara WTI naik 0,63% menjadi US$76,33 per barel. Nilai tukar sterling melemah 0,06% terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh spekulasi mengenai kontestasi kepemimpinan Partai Buruh Inggris.
Pergerakan harga saham di FTSE 100 mencerminkan dinamika sektoral. Entain naik 2,39% menjadi £565,40, Babcock International Group naik 2,03% menjadi £1.053,50, dan BP menguat 1,61% menjadi £497,95. Sebaliknya, Admiral Group jatuh tajam 5,77% menjadi £3.168, dipicu oleh kegagalan tawaran akuisisi oleh Fattal Hotel Group terhadap PPHE Hotel Group. Penolakan tawaran £22 per saham, yang menilai PPHE senilai £930 juta, menambah tekanan pada saham sektor properti.
Sentimen pasar global juga tercermin dalam pergerakan indeks utama lainnya. Di Amerika Serikat, harapan bahwa kesepakatan damai US‑Iran akan bertahan mendorong Nasdaq naik 1,9%, S&P 500 naik 1,1%, dan Dow Jones naik 0,1%. Di Asia, Kospi Korea Selatan turun 0,13%, Nikkei Jepang naik 0,28%, TAIEX Taiwan naik 1,28%, Shanghai Composite turun 0,43%, dan Hang Seng Hong Kong turun 1,59%. Di India, baik Nifty 50 maupun Sensex menurun masing‑masing 0,93% dan 1,07%.
Para analis menilai bahwa penurunan FTSE 100 disebabkan oleh tekanan pada sektor logam mulia, terutama pergerakan harga perak yang menurunkan saham-saham pertambangan terkait. Chris Beauchamp, kepala analis pasar di IG, mencatat, “Indeks utama London kesulitan menemukan momentum karena penurunan harga logam, meskipun tekanan pada sektor minyak sedikit mereda.”
Secara keseluruhan, penyesuaian pada FTSE dan Sensex memperlihatkan pergeseran alokasi dana yang signifikan, terutama mengarahkan perhatian pada perusahaan teknologi, e‑commerce, dan layanan keuangan di India. Sementara itu, dinamika pasar Eropa dan Amerika tetap dipengaruhi oleh faktor geopolitik, kebijakan fiskal, dan fluktuasi komoditas. Investor diharapkan terus memantau perkembangan rebalancing serta data ekonomi makro untuk mengoptimalkan portofolio di tengah ketidakpastian global.