Rupiah Terus Tertekan, Kurs USD/IDR Melewati Rp18.000 di Tengah Ketidakpastian Global
Blog Berita daikin-diid – 05 Juni 2026 | Jakarta, 5 Juni 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus menunjukkan tekanan signifikan pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Kurs jual pada sejumlah bank besar nasional menembus angka Rp18.000 per dolar, menandakan melemahnya daya beli mata uang Garuda di tengah gejolak ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasar keuangan.
Data resmi yang dirilis oleh Bank Indonesia serta laporan komparatif dari empat bank utama memperlihatkan perbedaan tipis namun penting antara kurs beli dan kurs jual. Pada e-Rate Bank Central Asia (BCA), kurs beli tercatat Rp18.020 sementara kurs jual Rp18.040. Bank Negara Indonesia (BNI) menawarkan kurs beli Rp18.018 dan kurs jual Rp18.038. Sementara itu, Bank Mandiri mencatat kurs beli Rp18.050 dan kurs jual Rp18.080. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menonjol dengan kurs jual tertinggi, yakni Rp18.150 per dolar, setelah memperbaharui data pada 4 Juni 2026 dengan kurs beli Rp17.948.
Informasi tambahan dari portal ekonomi Lampung77.com menyebutkan bahwa pada pukul 09.00 WIB, kurs jual rupiah berada di angka Rp18.129,19 per USD dan kurs beli Rp17.948,81. Sumber lain yang mengutip data Google Finance pada pukul 09.22 WIB mencatat kurs USD/IDR pada level Rp18.012, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.060 pada Kamis (4/6).
Berikut rangkuman kurs utama pada hari Jumat:
| Bank | Kurs Beli (IDR) | Kurs Jual (IDR) |
|---|---|---|
| BCA (e-Rate) | 18.020 | 18.040 |
| BNI (Special Rate) | 18.018 | 18.038 |
| Mandiri (Special Rate) | 18.050 | 18.080 |
| BRI (e-Rate) | 17.948 | 18.150 |
Pergerakan nilai tukar ini tidak lepas dari faktor-faktor eksternal yang memperparah sentimen pasar. Konflik militer yang berkembang di Timur Tengah, termasuk serangan rudal Iran terhadap Kuwait dan Bahrain serta operasi militer Israel di Lebanon, meningkatkan volatilitas nilai tukar mata uang safe‑haven seperti dolar AS. Di sisi lain, kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat menambah tekanan pada mata uang berkembang, termasuk rupiah.
Para analis ekonomi memperingatkan bahwa tren pelemahan ini dapat berlanjut jika tekanan eksternal tidak mereda. Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, mencatat bahwa investor kini mengambil sikap hati‑hati, menunggu kepastian geopolitik sebelum melakukan penyesuaian portofolio. Ia menambahkan bahwa fluktuasi harian sebesar 2‑3 poin masih wajar dalam kondisi pasar yang belum stabil.
Implikasi langsung dari penguatan dolar AS terasa pada sektor‑sektor yang mengandalkan impor, terutama bahan baku energi, makanan, dan barang modal. Biaya impor naik, sehingga tekanan inflasi dapat kembali menguat. Bank Indonesia diperkirakan akan menyesuaikan suku bunga acuan (BI Rate) untuk menahan laju inflasi, meski kebijakan tersebut dapat menurunkan likuiditas domestik.
Di luar pasar valuta asing, pergerakan kurs USD/IDR juga memengaruhi keputusan investasi di aset kripto. Pada pertengahan Mei 2026, perusahaan teknologi Strive Inc mengakuisisi 1.109 Bitcoin dengan rata‑rata harga USD 76.989 per BTC, setara sekitar Rp1,39 miliar per koin dengan asumsi kurs Rp18.060. Total pembelian senilai US$85,4 juta (sekitar Rp1,5 triliun) menegaskan bahwa nilai tukar rupiah menjadi faktor penting dalam perhitungan biaya akuisisi aset digital oleh perusahaan multinasional.
Secara keseluruhan, kurs dolar AS pada hari Jumat menegaskan bahwa rupiah berada dalam fase koreksi yang masih dalam zona Rp18.000‑Rp18.200. Pemerintah dan otoritas moneter harus terus memantau perkembangan eksternal serta menyiapkan kebijakan yang dapat menstabilkan nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi domestik. Konsumen, pelaku usaha, dan investor diharapkan menyesuaikan strategi keuangan mereka dengan memperhatikan dinamika kurs harian serta prospek jangka menengah yang masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik.