Riot Global: Dari Bentrok di Beograd hingga Penghapusan Kasus Jan 6 oleh DOJ
Blog Berita daikin-diid – 24 Mei 2026 | Ketegangan politik dan aksi massa kembali menyita perhatian dunia. Di satu sisi, ribuan demonstran anti-pemerintah berhadapan dengan aparat keamanan di ibukota Serbia, Beograd, sementara di Amerika Serikat, Departemen Kehakiman (DOJ) menghapus ratusan siaran pers terkait kasus kejahatan yang timbul dari serangan terhadap Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Kedua peristiwa ini menyoroti bagaimana pemerintah dan institusi berusaha mengendalikan narasi setelah kerusuhan yang melibatkan pendukung kuat masing-masing kepemimpinan.
Di Beograd, demonstrasi yang dipicu oleh kekecewaan publik terhadap kebijakan ekonomi dan korupsi pemerintah berujung pada bentrokan fisik antara para pengunjuk rasa dan polisi. Penjaga keamanan menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan, sementara demonstran melontarkan batu dan menyalakan petasan. Insiden ini menambah daftar panjang kerusuhan sipil di Eropa Timur yang kerap kali berakhir dengan penangkapan massal serta tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.
Sementara itu, di Washington D.C., DOJ mengumumkan penghapusan sejumlah siaran pers yang mendokumentasikan proses penuntutan, vonis, dan hukuman terkait lebih dari 1.500 orang yang terlibat dalam serangan Capitol pada 6 Januari 2021. Penghapusan tersebut diklaim sebagai upaya menghilangkan “propaganda partisan” yang menurut pihak administrasi Trump (yang kembali memegang kendali pada Januari 2025) menodai reputasi pendukungnya. Langkah ini termasuk menghilangkan dokumen tentang konspirasi seditious yang menjerat kelompok ekstrem kanan seperti Proud Boys dan Oath Keepers.
Berikut rangkaian peristiwa penting yang terjadi dalam dua minggu terakhir:
- Beograd: Ratusan warga berkumpul di depan Parlemen Serbia menuntut pengunduran diri Perdana Menteri. Polisi menanggapi dengan penggunaan gas air mata, menyebabkan puluhan orang terluka ringan.
- Washington D.C.: DOJ menghapus lebih dari 30 siaran pers yang mencakup kasus-kasus seditious conspiracy, penyerangan terhadap petugas, dan penggunaan senjata improvisasi.
- Politik AS: Presiden Trump mengumumkan pendirian dana $1,776 miliar untuk “mengkompensasi” para pendukung yang merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintahan sebelumnya.
- Reaksi internasional: Uni Eropa dan NATO mengeluarkan pernyataan keprihatinan atas penindasan demonstrasi di Serbia, sementara Uni Bangsa-Bangsa menunggu klarifikasi tentang transparansi data DOJ.
Para pengamat menilai bahwa kedua peristiwa ini mencerminkan tren otoriter yang mengandalkan kontrol naratif untuk memperkuat legitimasi. Di Serbia, penggunaan kekerasan oleh polisi dipandang sebagai upaya menahan gelombang protes yang dapat menggoyahkan pemerintahan Aleksandar Vucic. Di Amerika, tindakan menghapus dokumen resmi dapat menimbulkan keraguan terhadap integritas sistem peradilan, terutama bila dikaitkan dengan kebijakan pardon massal yang baru-baru ini diumumkan.
Para ahli hukum menyoroti risiko hukum yang signifikan. Penghapusan dokumen publik dapat melanggar Undang-Undang Kebebasan Informasi (FOIA) di AS, sementara di Serbia, penggunaan gas beracun dan peluru karet tanpa prosedur yang jelas dapat melanggar Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia.
Dalam konteks yang lebih luas, kedua peristiwa menegaskan pentingnya pengawasan independen terhadap tindakan pemerintah. Lembaga pengawas, media, serta organisasi hak asasi manusia harus tetap waspada terhadap upaya penyensoran dan penindasan yang dapat menggerus demokrasi. Masyarakat sipil di kedua negara menunjukkan bahwa tekanan publik tetap menjadi faktor kunci dalam menuntut akuntabilitas.
Kesimpulannya, riots di Beograd dan penghapusan kasus Jan 6 oleh DOJ mencerminkan dinamika kekuasaan yang berusaha mengendalikan narasi setelah kerusuhan massa. Kedua peristiwa menimbulkan pertanyaan mendasar tentang transparansi, penegakan hukum, dan perlindungan hak asasi manusia di era politik yang semakin terpolarisasi.