Thomas Tuchel Guncang Dunia Sepakbola Inggris: Pilihan Berani, Skuad Tanpa Bintang, dan Harapan Piala Dunia 2026
Blog Berita daikin-diid – 22 Mei 2026 | Thomas Tuchel, pelatih asal Jerman yang pernah memimpin Bayern Munchen, PSG, dan Chelsea, resmi mengumumkan skuad akhir 26 pemain Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026 pada hari Jumat, 22 Mei 2026. Keputusan tersebut menimbulkan perdebatan sengit di kalangan pundit, pemain, dan suporter karena sejumlah nama besar seperti Harry Maguire, Phil Foden, dan Trent Alexander-Arnold tidak masuk dalam daftar.
Tuchel menegaskan bahwa pemilihan skuad tidak semata‑mata didasarkan pada reputasi atau popularitas, melainkan pada komitmen 100 persen dan kemampuan berkontribusi sebagai bagian dari tim. “Kami mencoba membangun tim terbaik yang memungkinkan, yang tidak selalu berarti memilih 26 pemain paling berbakat,” ujarnya dalam konferensi pers yang dilansir BBC. Ia menambahkan bahwa skuad yang dipilih mencakup tiga penjaga gawang, sembilan bek, tujuh gelandang, dan tujuh penyerang, masing‑masing bersaing untuk menit bermain.
Berikut adalah susunan pemain yang diumumkan oleh Tuchel:
- Penjaga gawang: Jordan Pickford, Dean Henderson, James Trafford
- Bek: Reece James, Jarell Quansah, Ezri Konsa, John Stones, Marc Guehi, Nico O’Reilly, Dan Burn, Tino Livramento, Djed Spence
- Gelandang: Declan Rice, Elliot Anderson, Kobbie Mainoo, Jordan Henderson, Morgan Rogers, Eberechi Eze, Jude Bellingham
- Penyerang: Bukayo Saka, Noni Madueke, Marcus Rashford, Anthony Gordon, Harry Kane (kapten), Ollie Watkins, Ivan Toney
Keputusan menyingkirkan Harry Maguire dan Luke Shaw, dua bek senior Manchester United, serta Trent Alexander‑Arnold, bek sayap kanan Liverpool, menjadi sorotan utama. Di lini tengah, Phil Foden (Manchester City) dan Cole Palmer (Chelsea) juga tidak terpilih meski keduanya memiliki catatan prestasi di level klub.
Penjelasan Tuchel tentang pengesampingan pemain‑pemain tersebut berlandaskan pada prinsip kolektivitas. “Tim memenangkan kejuaraan, sesederhana itu. Apa yang kami coba capai pada musim panas nanti hanya bisa dicapai sebagai sebuah tim,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa keberadaan pemain seperti Jordan Henderson, yang berusia 36 tahun, diharapkan dapat menambah disiplin dan motivasi dalam ruang ganti, sekaligus menjadi penyeimbang antara generasi muda dan veteran.
Salah satu pilihan paling kontroversial adalah pemanggilan Ivan Toney, striker Al‑Ahli yang belum membela Timnas Inggris selama setahun. Beberapa analis berargumen bahwa Dominic Calvert‑Lewin, yang mencetak 14 gol di Premier League musim ini, layak mendapat tempat. Namun Tuchel mempertahankan pilihan tersebut dengan alasan pengalaman dan kemampuan Toney mencetak gol secara konsisten, mengingat tiga penyerang utama Inggris kini terdiri atas Harry Kane, Marcus Rashford, dan Toney.
Reaksi dari pihak lain juga beragam. Wayne Rooney, legenda Inggris, menyambut baik kehadiran Toney, menilai bahwa memiliki tiga nomor sembilan meningkatkan peluang mencetak gol. Sementara itu, Cole Palmer dan Phil Foden dipandang kurang berprestasi pada musim terakhir, yang membuat keputusan Tuchel lebih dapat dipahami bagi sebagian kalangan.
FA Inggris tampaknya mendukung pendekatan Tuchel yang berani. Sebuah editorial menyebutkan bahwa FA menginginkan “mentalitas tanpa kompromi” dari pelatih asing ini, dan bahwa keputusan seleksi ini mencerminkan keinginan mereka untuk menghindari nepotisme serta menekankan performa aktual dibandingkan nama besar.
Timnas Inggris akan memulai kamp persiapan di Florida pada 1 Juni 2026, sebelum melakukan dua laga uji coba melawan Selandia Baru (6 Juni) dan Kosta Rika (10 Juni). Grup fase pertama Piala Dunia menempatkan Inggris bersama Kroasia, Ghana, dan Panama, dengan laga pembuka melawan Kroasia pada 17 Juni.
Secara keseluruhan, skuad yang dipilih Tuchel menampilkan keseimbangan antara pemain muda berbakat dan veteran berpengalaman. Jika para pemain dapat menginternalisasi semangat tim, mengesampingkan ego, dan memaksimalkan peluang rotasi, Inggris memiliki peluang kuat untuk mengakhiri kutukan 60 tahun tanpa trofi Piala Dunia. Namun, tantangan pertama akan datang pada pertandingan pembuka melawan Kroasia, di mana taktik defensif dan kreativitas lini tengah akan diuji secara intensif.
Dengan strategi yang menekankan kebersamaan, disiplin, dan keberanian mengambil risiko, Thomas Tuchel menyiapkan Inggris untuk menghadapi turnamen paling bergengsi dalam sepakbola. Keberhasilan atau kegagalan skuad ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana keputusan berani Tuchel dapat menghasilkan hasil yang diharapkan oleh suporter dan otoritas sepakbola Inggris.