Museum Marsinah Resmi Dibuka: Simbol Perjuangan Buruh yang Dorong Pariwisata Edukatif Nglundo

Blog Berita daikin-diid – 17 Mei 2026 | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta tokoh serikat buruh KSPSI menggelar peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu 16 Mei 2026. Acara yang dihadiri ribuan buruh, tokoh daerah, dan perwakilan media ini menandai titik penting dalam upaya mengabadikan warisan perjuangan Marsinah, pahlawan nasional pejuang hak buruh, sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya dan edukatif di wilayah tersebut.

Menurut pernyataan resmi Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, museum tersebut tidak sekadar menjadi ruang belajar sejarah, melainkan menjadi magnet bagi wisata berbasis budaya dan edukasi. “Kehadiran Museum Marsinah akan menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberi nilai pembelajaran bagi masyarakat,” ujarnya setelah meninjau rumah keluarga Marsinah yang menjadi tempat kelahiran tokoh buruh tersebut pada 10 April 1969. Di rumah itu, pengunjung dapat melihat kamar tidur, ruang utama, serta rangkaian dokumentasi foto dan penghargaan yang memperlihatkan jejak hidup sang pahlawan.

Gubernur Khofifah Terharu, Air Mata Mengalir Saat Siswa SRMP Mojokerto Pidato Lima Bahasa
Baca juga:
Gubernur Khofifah Terharu, Air Mata Mengalir Saat Siswa SRMP Mojokerto Pidato Lima Bahasa

Kompleks museum, yang berdampingan dengan rumah keluarga, menampilkan koleksi pribadi Marsinah secara informatif. Antara koleksi utama yang dipajang meliputi:

  • Sepeda ontel yang sering digunakan dalam perjalanan sehari-hari.
  • Seragam pabrik tempat ia bekerja.
  • Tas, dompet, dan ijazah sekolah.
  • Catatan perjuangan, kliping koran, dan foto-foto aksi buruh tahun 1990-an.
  • Diorama yang menggambarkan kondisi kerja buruh pada era 1990-an.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai museum ini dapat menjadi destinasi wisata edukatif baru yang sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. “Alhamdulillah, isinya bagus dan tertata rapi, menampilkan dokumentasi perjuangan Ibu Marsinah, termasuk foto, kliping koran, serta pakaian sebelum jasadnya ditemukan,” kata Gubernur saat meninjau. Ia menambahkan, desa Nglundo telah memperoleh Surat Keputusan sebagai Desa Wisata dan kini mengembangkan Pokdarwis serta kerjasama dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk memasarkan produk kreatif lokal.

Dalam hal pendanaan, pembangunan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah menelan biaya hampir Rp3,8 miliar. Seluruh dana berasal dari donasi buruh se-Indonesia dan sumbangan organisasi Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), tanpa mengandalkan APBN maupun APBD. Kepala KSPSI Andi Gani Nena Wea menegaskan, dana tersebut merupakan hasil gotong‑royong keluarga besar serikat buruh, didukung oleh aset koperasi yang mencapai Rp2,1 triliun. “Tidak ada dana pemerintah, semuanya bersumber dari solidaritas buruh,” tegasnya.

Gaji di Indonesia: Tantangan Bawah Rp10 Juta, Bonus Ke-13 ASN, dan Kenaikan Gaji Hakim Bikin Perbincangan Hangat
Baca juga:
Gaji di Indonesia: Tantangan Bawah Rp10 Juta, Bonus Ke-13 ASN, dan Kenaikan Gaji Hakim Bikin Perbincangan Hangat

Selain menampilkan artefak, museum ini dikelola oleh Yayasan KSPSI dengan konsep penataan yang mengadopsi standar Museum Galeri Nasional Singapura, menekankan tampilan visual yang modern namun tetap menghormati nilai historis. Pengelolaan profesional ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta menyediakan lapangan kerja bagi warga Nglundo.

Para pemangku kepentingan desa, seperti Ketua Pokdarwis Eko Fitri Puji Harto, mengaku masih membutuhkan pendampingan dalam penyusunan paket wisata, peningkatan kualitas pelayanan, serta keamanan pengunjung. “Kami sangat berharap dukungan dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat agar Desa Wisata Nglundo dapat berkembang dengan baik,” ujarnya. Kolaborasi dengan KDKMP diharapkan menghasilkan suvenir berbasis budaya, seperti kerajinan tangan, pakaian tradisional, dan makanan khas yang dapat menambah nilai ekonomi lokal.

Secara keseluruhan, peresmian Museum Marsinah tidak hanya menjadi simbol pengakuan atas jasa pahlawan buruh perempuan, tetapi juga menjadi katalisator pengembangan pariwisata edukatif, penguatan identitas budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Nglundo. Dengan dukungan pemerintah, serikat buruh, dan partisipasi aktif warga, museum ini diproyeksikan menjadi titik temu antara sejarah, edukasi, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Kasasi Nikita Mirzani Ditolak, Kini Menggugat Prabowo: Sorotan Vonis Enam Tahun dan Tanda Kritik Terhadap Hukuman Koruptor
Baca juga:
Kasasi Nikita Mirzani Ditolak, Kini Menggugat Prabowo: Sorotan Vonis Enam Tahun dan Tanda Kritik Terhadap Hukuman Koruptor

Ke depan, diharapkan Museum Marsinah menjadi pusat pembelajaran bagi generasi muda, sarana promosi wisata desa, serta warisan abadi yang terus menginspirasi perjuangan keadilan sosial di seluruh Indonesia.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

perihokiduta76