Rupiah Berbalik Menguat: Prediksi Hari Ini, Sentimen Global & Faktor Domestik yang Menarik Perhatian
Blog Berita daikin-diid – 07 Mei 2026 | Rupiah kembali menjadi sorotan pasar hari ini setelah mengalami fluktuasi signifikan pada dua hari perdagangan terakhir. Pada Selasa (5/5/2026) mata uang Garuda ditutup melemah 40 poin pada level Rp17.434 per dolar AS, memperluas rentang perdagangan ke Rp17.430‑Rp17.450. Penurunan tersebut dipicu oleh sentimen geopolitik yang masih rapuh, terutama setelah aksi militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz yang meningkatkan kekhawatiran atas gangguan pasokan energi.
Namun, pada Rabu (6/5/2026) Rupiah berhasil berbalik menguat 34‑37 poin, menutup pada Rp17.387‑Rp17.390 per dolar AS, mencatat kenaikan sekitar 0,20‑0,21 persen. Penguatan ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat yang mengindikasikan penurunan intensitas serangan terhadap Iran, serta penurunan harga minyak dunia dan indeks dolar yang memberi ruang bagi mata uang regional untuk menguat.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menekankan bahwa meskipun sentimen global masih bergejolak, faktor domestik mulai memberikan dukungan kuat bagi Rupiah. Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% year‑on‑year, didorong oleh konsumsi rumah tangga, peningkatan mobilitas selama libur nasional, serta kebijakan stimulus pemerintah seperti diskon tiket transportasi dan gaji ke‑14. Pada saat yang sama, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada 4,75 persen, menargetkan stabilitas harga dan mendukung likuiditas.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto menegaskan prospek positif Rupiah ke depan. Ia menyebut Rupiah masih undervalued dan memiliki potensi menguat berkat fundamental ekonomi yang solid, termasuk pertumbuhan kredit yang meningkat, inflasi yang terkendali, dan cadangan devisa yang memadai. Meski demikian, Warjiyo mengakui adanya tekanan jangka pendek dari faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga Amerika Serikat, imbal hasil US Treasury 10‑tahun yang berada di sekitar 4,47%, serta permintaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen.
| Indeks | Perubahan |
|---|---|
| IDXINDUST | +0,74% |
| IDXINFRA | +1,45% |
| IDXCYCLIC | -0,04% |
| IDXTRANS | -1,71% |
| IDXENERGY | -0,87% |
| IDXFINANCE | +0,80% |
| KOMPAS100 | +0,45% |
| LQ45 | +0,91% |
Data indeks di atas mencerminkan pergerakan pasar saham Indonesia yang beragam, namun secara keseluruhan menunjukkan sentimen positif pada sektor infrastruktur, keuangan, dan energi terbarukan. Kenaikan indeks IDXINFRA sebesar 1,45% menandakan optimisme investor terhadap proyek‑proyek pembangunan yang didukung pemerintah, sementara penurunan di sektor transportasi dan energi mencerminkan kekhawatiran atas volatilitas harga minyak.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor geopolitik yang mulai mereda, pergerakan harga minyak yang stabil, serta data ekonomi domestik yang kuat menjadikan Rupiah berada pada posisi yang lebih menguntungkan. Analis memperkirakan bahwa jika tekanan eksternal tidak kembali menguat, Rupiah dapat melanjutkan penguatannya dalam minggu-minggu mendatang, terutama bila Bank Indonesia mempertahankan kebijakan moneter yang responsif dan pemerintah terus mendorong pertumbuhan konsumsi.
Dengan dinamika pasar yang terus berubah, pelaku investasi disarankan untuk memantau perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, data cadangan devisa, serta indikator inflasi domestik. Kedepannya, stabilitas Rupiah akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia serta kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global.