Rupiah Pecah Rekor Terlemah, Potensi Tembus Rp 17.500 di Tengah Tekanan Global
Blog Berita daikin-diid – 07 Mei 2026 | Rupiah Indonesia kembali menorehkan rekor terlemah pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, ketika nilai tukar mencapai Rp 17.412 per dolar AS pada pukul 09.52 WIB. Penurunan sebesar 18,00 poin atau 0,10 % ini menandai level terendah sepanjang sejarah kurs resmi, melampaui catatan sebelumnya yang berada di kisaran Rp 17.363. Data Bloomberg menunjukkan bahwa pada pembukaan pasar rupiah sudah melemah 13,50 poin menjadi Rp 17.407, menegaskan tekanan yang semakin intensif.
Penurunan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian pasar global. Kenaikan harga minyak dunia, kebijakan moneter ketat Federal Reserve, serta imbal hasil US Treasury 10‑tahun yang berada di kisaran 4,47 % memperkuat dolar AS. Di dalam negeri, permintaan valuta asing meningkat karena repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan jemaah haji. Kombinasi faktor eksternal dan internal ini menciptakan tekanan jangka pendek yang signifikan pada nilai tukar.
Sementara nilai tukar melemah, indikator fundamental ekonomi domestik tetap menunjukkan kekuatan. Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61 % secara tahunan, naik dari 5,39 % pada kuartal sebelumnya. Inflasi berada dalam kisaran target Bank Indonesia, cadangan devisa tetap memadai, dan penyaluran kredit ke sektor riil menunjukkan peningkatan. Berikut adalah beberapa indikator utama yang mendukung prospek stabilitas rupiah:
- Pertumbuhan PDB: 5,61 % YoY
- Inflasi: berada dalam kisaran 2‑3 %
- Cadangan devisa: lebih dari US$ 150 miliar
- Penyaluran kredit: meningkat 4,2 % QoQ
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa rupiah saat ini masih berada pada posisi undervalued dan berpotensi menguat seiring dengan kuatnya fundamental ekonomi. Ia menyampaikan bahwa “fundamental kita kuat. Dengan kondisi seperti ini, rupiah semestinya stabil dan cenderung menguat.” Namun, Warjiyo juga mengakui adanya tekanan jangka pendek yang dipicu oleh faktor global serta kebutuhan musiman dalam negeri.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menambahkan bahwa Indonesia kini telah “melepaskan kutukan” pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran 5 %. Capaian pertumbuhan 5,61 % menunjukkan akselerasi yang signifikan, memberi ruang bagi pemerintah untuk memperkuat permintaan domestik dan mendorong sektor ekspor. Kebijakan jangka pendek yang sedang dipersiapkan mencakup stimulus bagi sektor manufaktur, dukungan terhadap usaha kecil menengah, serta upaya menjaga stabilitas harga energi.
Jika tekanan eksternal tidak mereda, analis pasar memperkirakan rupiah dapat menembus level Rp 17.500 per dolar AS dalam minggu-minggu mendatang. Namun, kombinasi kebijakan moneter yang berhati-hati, cadangan devisa yang kuat, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap di atas 5 % dapat menjadi penopang bagi nilai tukar untuk kembali menguat. Pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau situasi dan siap mengambil langkah tambahan bila diperlukan, guna melindungi daya beli masyarakat dan stabilitas makroekonomi.