Na Daehoon Batasi Akses Jule ke Anak, Safrie Ramadan Minta Maaf, dan Implikasi Psikologis Co-Parenting di Era Digital

Blog Berita daikin-diid – 06 Mei 2026 | Jakarta, 6 Mei 2026 – Sejumlah peristiwa yang melibatkan aktor publik Na Daehoon, Julia Prastini (Jule), dan pasangan barunya Safrie Ramadan kembali menjadi sorotan publik setelah sang ayah memutuskan untuk membatasi akses Jule ke anak‑anaknya. Keputusan tersebut diungkap lewat unggahan media sosial Na Daehoon, yang menegaskan bahwa ia akan meninjau kembali frekuensi pertemuan Jule dengan kedua buah hatinya demi menjaga kestabilan emosional mereka.

Sementara itu, Safrie Ramadan, yang sebelumnya menjadi sasaran kritikan tajam karena memposting candaan yang melibatkan anak‑anak Na Daehoon, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf pada 5 Mei 2026. Dalam sebuah video singkat, ia mengakui bahwa konten tersebut tidak pantas dan menyesali dampak negatif yang ditimbulkan, sekaligus meminta pengampunan kepada Na Daehoon, Jule, serta publik yang merasa terganggu.

John Ternus Resmi Gantikan Tim Cook sebagai CEO Apple, Era Baru Inovasi Teknikal Dimulai
Baca juga:
John Ternus Resmi Gantikan Tim Cook sebagai CEO Apple, Era Baru Inovasi Teknikal Dimulai

Keputusan Na Daehoon untuk menurunkan frekuensi pertemuan Jule dengan anak‑anaknya didasari oleh kekhawatiran akan efek psikologis pada balita yang masih berada pada fase pembentukan rasa aman (basic trust). Psikolog Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menjelaskan bahwa anak usia dini sangat sensitif terhadap perubahan pola kehadiran figur dewasa. “Setiap kali figur dewasa baru masuk dan keluar, anak dapat mengalami apa yang kami sebut ‘attachment fatigue’ atau kelelahan ikatan emosional,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas.com pada Selasa, 5 Mei 2026.

Danti menambahkan bahwa tidak ada angka pasti yang menentukan kapan waktu paling aman untuk memperkenalkan pasangan baru kepada anak. Namun, ia menekankan pentingnya stabilitas emosional pasca perceraian atau perpisahan orang tua. “Anak harus diberikan ruang untuk beradaptasi dengan rutinitas baru, tanpa tekanan tambahan dari kehadiran orang dewasa yang belum tentu bertahan,” jelasnya.

Menurut Danti, masa penjajakan hubungan baru biasanya memakan waktu enam hingga dua belas bulan sebelum anak dilibatkan secara langsung. Selama periode ini, orang tua diharapkan menilai keseriusan dan komitmen hubungan tersebut. “Jika hubungan masih dalam tahap eksplorasi, memperkenalkan pasangan baru kepada anak dapat menimbulkan kebingungan dan mengganggu rasa aman yang sedang dibangun,” tandasnya.

Akademisi Gugat MBG: Tuduhan Penyusupan Anggaran Pendidikan Mengguncang Kebijakan Negara
Baca juga:
Akademisi Gugat MBG: Tuduhan Penyusupan Anggaran Pendidikan Mengguncang Kebijakan Negara

Kasus ini juga menyingkap dinamika baru dalam co‑parenting di era digital, di mana komentar dan candaan di media sosial dapat bereskalasi menjadi konflik publik. Candaan Safrie Ramadan yang menyinggung anak‑anak Na Daehoon menjadi titik pemicu utama, memicu reaksi keras dari Na Daehoon yang menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar etika, tetapi juga melukai perasaan keluarga.

Setelah permintaan maaf Safrie, Na Daehoon belum memberikan respons resmi terkait permohonan maaf tersebut. Namun, langkah Na Daehoon dalam membatasi akses Jule dapat dilihat sebagai upaya melindungi kesejahteraan anak‑anaknya, sekaligus mengirim pesan bahwa kepentingan anak berada di atas kepentingan pribadi atau konflik antar‑pribadi.

Para ahli menyoroti bahwa pola “pintu berputar” (rotating door) dimana anak terus-menerus bertemu dengan figur dewasa baru yang kemudian menghilang dapat mengganggu proses pembentukan attachment yang stabil. “Jika anak terbiasa melihat hubungan orang tua sebagai sesuatu yang sementara, ia dapat menginternalisasi rasa tidak dapat dipercaya pada orang lain,” ujar Danti. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah kepercayaan dan hubungan interpersonal di masa depan.

Drama Hak Asuh: Na Daehoon Tunduk 7 Syarat Ketat untuk Julia Prastini Bertemu Anak
Baca juga:
Drama Hak Asuh: Na Daehoon Tunduk 7 Syarat Ketat untuk Julia Prastini Bertemu Anak

Di sisi lain, Safrie Ramadan berjanji untuk lebih berhati‑hati dalam penggunaan media sosial. Ia menegaskan komitmennya untuk tidak lagi mempublikasikan konten yang melibatkan anak‑anak orang lain tanpa izin, serta akan fokus pada perbaikan diri agar tidak mengulangi kesalahan serupa.

Kasus ini memberi pelajaran penting bagi orang tua, terutama mereka yang berada dalam proses perceraian atau perpisahan, bahwa keputusan mengenai co‑parenting harus mempertimbangkan kesejahteraan emosional anak di atas segala kepentingan pribadi. Konsultasi dengan profesional psikologi dapat menjadi langkah proaktif untuk menilai kesiapan anak sebelum melibatkan mereka dalam dinamika hubungan baru orang tua.

Dengan mengedepankan prinsip stabilitas, konsistensi, dan rasa aman, orang tua dapat meminimalisir risiko kelelahan emosional pada anak serta menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan psikologis yang sehat.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

perihokianalisa lintas algoritma sinkronisasi pola jitu mahjong wild deluxe gates of olympus probabilitas dadu sicboarsitektur strategi hybrid integrasi taktik paten baccarat pola presisi mahjong ways 2 pgsoft starlight princessprotokol rtp live yang terintegrasi strategi blackjack volatilitas mahjong wins 3 pragmatic sweet bonanzadialektika probabilitas analisa presisi pola mahjong ways 2 pgsoft integrasi strategi roulette wild west goldrekayasa peluang cara membedah strategi mahjong wins 3 pragmatic sugar rush kalkulasi taktis sv388observasi taktik dan gaya permainan terbaru yang dimiliki lucky nekorasio peningkatan taktik mahjong ways semakin terlihat di pg softstrategi mahjong ways untuk terjun di permainan online semakin meningkatkan di tahun 2026struktur permainan mahjong ways dengan penilaian casino onlinestudi banding teknik wild bounty showdown pastikan roulette alami peningkatan