40 Ikan Sapu-Sapu di Kali Depan Plaza Indonesia Dipatahkan dan Dikubur: Upaya Besar Pemprov DKI Jakarta
Blog Berita daikin-diid – 14 April 2026 | Jakarta, 14 April 2026 – Pada Jumat, 10 April 2026, tim gabungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhasil menurunkan 40 ekor ikan sapu-sapu yang mengendap di alur kali Cideng tepat di depan Plaza Indonesia, kawasan Bundaran HI. Penangkapan yang melibatkan lebih dari seratus personel dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP), Sumber Daya Air (SDA), Lingkungan Hidup (LH), serta Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) ini diakhiri dengan proses pemakaman massal bangkai ikan di Bantaran Kali Kanal Barat (BKB) Ciliwung, Tanah Abang.
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys disjunctivus), spesies asal Amerika Selatan, telah menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan Jakarta. Kemampuannya beradaptasi pada kondisi air yang keruh, rendah oksigen, dan kaya bahan organik memungkinkan populasi berkembang pesat, menggeser ikan lokal seperti wader dan menimbulkan kerusakan pada tanggul serta infrastruktur sungai. Observasi lapangan pada 13 April 2026 menunjukkan bahwa meskipun upaya penangkapan sebelumnya telah dilakukan, ikan-ikan tersebut masih terlihat berkerumun di dasar kali Cideng, khususnya di area yang berlumut dan berlumpur.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa penanganan di Plaza Indonesia dijadikan “role model” untuk penerapan strategi serupa di wilayah lain, termasuk Pulau Seribu. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada rapat khusus di Kantor Bina Marga Jakarta Timur, ia mengajak seluruh wali kota administrasi Jakarta untuk berkoordinasi dalam upaya pengendalian spesies invasif ini. “Saya akan minta semua wali kota, kecuali Pulau Seribu yang masih dalam evaluasi, untuk menangani masalah ini secara bersama-sama,” ujarnya.
- Jumlah ikan yang berhasil ditangkap: 38 kilogram, sekitar 41 ekor pada titik pertama di Kali Cideng.
- Tim operasional: lebih dari 100 personel lintas dinas.
- Lokasi pemakaman: Bantaran Kali Kanal Barat (BKB) Ciliwung, Tanah Abang, dipilih jauh dari permukiman untuk mencegah dampak negatif.
Setelah penangkapan, bangkai ikan yang telah dipastikan mati segera dipindahkan ke lokasi BKB. Kepala Dinas KPKP, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan bahwa tempat pemakaman dipilih karena dekat dengan fasilitas DPKP, namun kapasitas terbatas sehingga dipindahkan ke area yang lebih representatif dan aman. “Kami pastikan tidak ada penyalahgunaan atau pencemaran lebih lanjut,” tambahnya.
Langkah-langkah ini tidak lepas dari tekanan publik yang semakin mengkhawatirkan dampak ekologis dan ekonomi. Warga kota mengeluhkan penurunan kualitas air, penurunan populasi ikan lokal, serta risiko kerusakan tanggul yang dapat memperparah banjir. Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki toleransi tinggi terhadap variasi lingkungan, termasuk oksigen rendah dan kontaminan organik, sehingga kontrol populasi menjadi tantangan teknis yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Rapat khusus yang dijadwalkan akan melibatkan seluruh wali kota Jakarta – Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan – bertujuan menyusun kebijakan jangka panjang, termasuk penetapan zona penangkapan, penyediaan peralatan khusus, serta program edukasi kepada masyarakat tentang bahaya spesies invasif. Pramono Anung menambahkan bahwa kebijakan ini akan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia yang menghadapi masalah serupa.
Upaya penanggulangan ikan sapu-sapu di Plaza Indonesia sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah DKI Jakarta siap mengalokasikan sumber daya dan tenaga kerja demi melindungi ekosistem sungai Ciliwung. Pemerintah kota juga tengah mengumpulkan data lapangan untuk memperluas pembersihan ke titik-titik lain yang teridentifikasi sebagai hot spot populasi ikan sapu-sapu.
Kesimpulannya, penangkapan dan pemakaman massal 40 ekor ikan sapu-sapu di depan Plaza Indonesia menandai langkah awal yang signifikan dalam rangka mengendalikan penyebaran spesies invasif ini. Koordinasi antar‑dinasi, dukungan politik Gubernur Pramono Anung, serta partisipasi aktif warga diharapkan dapat mempercepat pemulihan kualitas perairan Jakarta dan menjadi contoh penanganan ekologis yang dapat direplikasi di tingkat nasional.