Danantara Luncurkan Proyek Sampah Jadi Listrik Rp 3 Triliun di Bali, Siap Beroperasi 2028
Blog Berita daikin-diid – 08 Juli 2026 | Denpasar, 8 Juli 2026 – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi memulai pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) pertama di Indonesia, yang terletak di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Bali. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) ini dibangun dengan investasi senilai tiga triliun rupiah dan dijadwalkan mulai beroperasi pada awal tahun 2028.
Acara peresmian dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, CEO Danantara Rosan Roeslani, serta perwakilan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan tim teknis dari PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera). Zulkifli menegaskan bahwa proyek ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam mengatasi krisis sampah melalui solusi energi bersih, sekaligus menurunkan beban regulasi yang selama ini menghambat penyelesaian masalah sampah.
Rosan Roeslani menjelaskan bahwa teknologi yang akan diterapkan telah teruji di lebih dari 50 negara, termasuk China dan Jepang, dan dirancang untuk mengolah sampah tanpa menimbulkan bau atau dampak negatif lingkungan. “Kami memilih teknologi yang sudah terbukti bersih dan ramah lingkungan, bahkan fasilitas di China telah dilengkapi taman baca dan area rekreasi untuk anak‑anak,” ujarnya.
Proyek PSEL Bali direncanakan memiliki kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari, setara dengan lebih dari 500.000 ton per tahun, yang mencakup sekitar 40 persen total timbulan sampah di pulau tersebut. Berdasarkan standar Europe Industrial Emission Directive (EU IED), fasilitas ini diperkirakan dapat menurunkan emisi sampah dari tempat pembuangan akhir hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton CO₂ per tahun.
Secara ekonomi, PSEL Bali akan menghasilkan energi hijau yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 100.000 rumah tangga di Bali. Nilai ekonomi proyek diperkirakan mencapai tiga triliun rupiah, dengan penciptaan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau, serta pengurangan kebutuhan lahan TPA sebesar 80 persen.
BRI, sebagai mitra pendanaan utama, melaporkan pencapaian signifikan dalam penguatan dana murah (Current Account Saving Account/CASA). Hingga Maret 2026, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.555,1 triliun, dengan CASA mencapai Rp1.058,6 triliun atau 68,07% dari total DPK. Penurunan cost of fund dari 2,98% menjadi 2,33% memberi ruang bagi BRI untuk mendukung proyek infrastruktur berkelanjutan seperti PSEL Bali.
Berikut ringkasan kunci proyek PSEL Bali:
- Investasi: Rp3 triliun
- Kapasilitas: 1.500 ton sampah per hari (≈500.000 ton per tahun)
- Reduksi emisi CO₂: 640.000 ton per tahun
- Pasokan listrik: cukup untuk 100.000 rumah tangga
- Penciptaan lapangan kerja: sekitar 1.200 tenaga kerja hijau
- Pengurangan kebutuhan lahan TPA: 80%
Para pengamat menilai proyek ini dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia yang menghadapi tekanan sampah dan kebutuhan energi bersih. Danantara menegaskan komitmennya untuk menyiapkan infrastruktur yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi lokal melalui pemanfaatan tenaga kerja dan teknologi lokal.
Dengan dukungan kuat dari pemerintah, BRI, serta pemangku kepentingan lainnya, proyek PSEL Bali diharapkan menjadi tonggak penting dalam transisi Indonesia menuju ekonomi sirkular dan energi terbarukan. Keberhasilan operasional pada 2028 akan menjadi indikator keberhasilan strategi nasional dalam mengatasi krisis sampah sekaligus memperkuat ketahanan energi.