Kegagalan Piala Dunia 2026: Hong Myung-bo Dihujat, Dilarang Masuk Restoran, dan Diberi Ancaman Pembunuhan
Blog Berita daikin-diid – 01 Juli 2026 | Korea Selatan resmi tersingkir dari fase grup Piala Dunia 2026 di Amerika Utara setelah hanya mengumpulkan tiga poin. Kegagalan tersebut memicu kemarahan publik yang meluas, menimpa pelatih kepala Hong Myung-bo secara pribadi. Tidak hanya kritik teknis, Hong kini menjadi sasaran boikot, ancaman pembunuhan, bahkan larangan masuk ke sejumlah restoran.
Timnas Korea Selatan, yang dikenal dengan julukan Taeguk Warriors, berakhir di urutan ketiga grup K dengan satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan. Kekalahan 0-1 melawan Afrika Selatan pada laga penentu menutup harapan mereka untuk melaju ke babak 32 besar. Hasil ini menandai salah satu catatan terburuk sejak debut Korea Selatan di Piala Dunia 2002, ketika tim berhasil menembus semifinal.
Reaksi publik langsung memuncak saat skuad kembali ke Incheon International Airport. Meskipun pihak tim berusaha tiba pada dini hari untuk menghindari sorotan, ribuan suporter menunggu, mengibarkan spanduk, dan memukul drum dengan teriakan “Hong Myung-bo out!”. Polisi harus membentuk barikade khusus untuk melindungi Hong dan stafnya dari potensi konfrontasi fisik.
Beberapa kejadian menonjol setelah kepulangan:
- Restoran dan toko di Seoul mulai mengumumkan boikot terhadap Hong, menolak melayani beliau sebagai bentuk protes konsumen.
- Media Korea Selatan, termasuk Chosun, menuliskan bahwa Hong menerima ancaman pembunuhan melalui akun media sosial anonim.
- Presiden Korea Selatan, Lee Jae‑myung, secara terbuka mengkritik keputusan penunjukan Hong, menuding adanya praktik “orang dalam” dalam proses seleksi pelatih.
- Keputusan kontroversial Hong menurunkan kapten Son Heung‑min pada menit awal laga melawan Afrika Selatan menjadi titik fokus utama kecaman.
Presiden Lee menegaskan bahwa kegagalan tim tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, melainkan juga keputusan manajerial yang dianggapnya tidak transparan. Ia menuduh adanya intervensi pihak tertentu dalam penunjukan Hong sebagai pelatih kepala, menambah tekanan politik pada Federasi Sepak Bola Korea (KFA).
Kontroversi tak berhenti di situ. Laporan media lokal mencatat bahwa sejumlah akun anonim mengunggah ancaman pembunuhan terhadap Hong, mengklaim identitas penulis sebagai warga Amerika Serikat berusia 41 tahun. Polisi Korea kini melacak jejak digital tersebut dan mempertimbangkan pasal intimidasi kriminal jika bukti menguat.
Keputusan taktis Hong pada laga melawan Afrika Selatan—menitipkan Son Heung‑min, yang selama ini menjadi motor serangan utama—memicu kebingungan di lapangan. Tanpa kehadiran Son, lini serang Korea kehilangan kreativitas, dan tim hanya mampu menahan satu gol hingga akhir pertandingan. Banyak analis menilai keputusan tersebut sebagai titik balik yang memperparah krisis tim.
Sejarah Piala Dunia Korea Selatan menampilkan fase-fase naik turun. Setelah menembus semifinal 2002, tim sempat gagal lolos pada edisi 2014 dan 2018, kembali mencapai babak 16 besar pada 2022, namun kembali terhenti di fase grup 2026. Kegagalan berulang ini diprediksi akan memicu evaluasi menyeluruh di dalam KFA, termasuk kemungkinan restrukturisasi kepengurusan dan kebijakan seleksi pemain.
Keamanan di bandara tetap menjadi prioritas. Unit kepolisian menambah patroli, sementara pihak KFA memutuskan tidak mengadakan acara penyambutan resmi untuk menghindari kerumunan. Meskipun situasi tegang, tidak ada insiden kekerasan yang tercatat selama proses kepulangan.
Dalam suasana yang semakin panas, Hong Myung‑bo mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih kepala, menyatakan bahwa ia ingin mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan tim. Keputusan ini diharapkan meredam ketegangan, namun masih banyak pihak yang menuntut reformasi struktural di sepak bola Korea Selatan.
Secara keseluruhan, kegagalan Piala Dunia 2026 menjadi cermin ketegangan antara ekspektasi publik, politik, dan dinamika internal federasi. Bagaimana Korea Selatan akan bangkit kembali, serta siapa yang akan memimpin tim nasional ke edisi berikutnya, masih menjadi pertanyaan besar yang menanti jawaban.