Shock Dunia: Paraguay Usai Adu Penalti Tundukkan Jerman, Negara Libur Nasional!
Blog Berita daikin-diid – 01 Juli 2026 | Pertandingan fase 32 besar Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Paraguay yang digelar di Gillette Stadium, Boston, pada 29 Juni 2026 berakhir dengan kejutan terbesar dalam sejarah turnamen. Setelah 90 menit reguler berakhir imbang 1-1 dan perpanjangan waktu tidak menghasilkan gol tambahan, laga berlanjut ke adu penalti. Paraguay berhasil mengeksekusi empat gol dari lima tendangan, sementara Jerman hanya mencetak tiga, menghasilkan skor akhir 4-3 untuk tim Selatan Amerika.
Gol pembuka di babak reguler dicetak oleh Jerman melalui Kai Havertz pada menit ke-12. Namun, gol balasan Paraguay muncul lewat Fabian Balbuena pada menit ke-54, menjadikan skor 1-1 menjelang jeda. Kedua tim tetap bersikap hati-hati di babak perpanjangan waktu, dan peluang Jerman pada menit ke-75 yang melibatkan Waldemar Anton dibatalkan setelah VAR meninjau pelanggaran.
Di babak adu penalti, kiper Paraguay Orlando Gill menjadi pahlawan utama. Gill menangkis dua tembakan kunci Jerman, yaitu tendangan pertama Kai Havertz dan tendangan berikutnya Nick Woltemade. Di sisi lain, kiper legendaris Jerman Manuel Neuer berhasil menyelamatkan satu tendangan, namun gagal menghentikan tendangan penentu kemenangan Jose Canale yang meluncur ke sudut kanan atas gawang pada fase sudden death.
- Leon Goretzka
- Waldemar Anton
- Nathaniel Brown
- Malick Thiaw
Keempat pemain tersebut menolak menjadi eksekutor penalti, menurut laporan Bild. Kapten tim Jerman Joshua Kimmich sempat meminta Goretzka dua kali, namun sang gelandang Bayern Munchen menolak. Akibat penolakan tersebut, bek berusia 30 tahun Jonathan Tah terpaksa maju sebagai penendang keenam, namun tendangannya melambung jauh di atas mistar gawang. Kai Havertz, yang sebelumnya mencetak satu gol, menjadi salah satu tiga pemain Jerman yang gagal mengeksekusi penalti pada laga tersebut.
Kekalahan ini menandai sejarah kelam bagi Die Mannschaft. Sebelumnya, Jerman mencatatkan enam adu penalti beruntun di turnamen besar, dan terakhir kalah dalam adu penalti pada final Piala Eropa 1976 melawan Cekoslowakia. Kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, Jerman tersingkir lewat adu penalti. Media Jerman, termasuk Bild, menyoroti hasil ini dengan judul “The Next German Football Nightmare”, sementara kolumnis Marion Horn mengkritik dukungan politikus Friedrich Merz yang tetap memuji tim meski berada dalam krisis.
Di Paraguay, kegembiraan meluap. Presiden Santiago Peña mengumumkan hari libur nasional pada 30 Juni 2026 sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian historis tersebut. Dalam sebuah dekrit yang diposting di X, Peña menulis, “Pemerintah tidak dapat tetap diam menghadapi pencapaian luar biasa ini. Seluruh bangsa harus merayakan kemenangan tim yang mewakili keberanian, kepercayaan, dan ketangguhan rakyat kami.”
Suasana di Asunción berubah menjadi festival. Ribuan warga berbondong‑bondong ke jalan‑jalan utama, menyanyikan lagu kebangsaan dan chant “¡Vamos Albirroja!”. Para pemain Paraguay, termasuk Jose Canale, menerima pelukan dan sorakan setelah mengeksekusi tendangan penentu. Foto-foto menunjukkan para pemain berlari ke lapangan, melompat, dan meneteskan air mata kebahagiaan.
Dengan kemenangan ini, Paraguay melaju ke babak 16 besar dan akan berhadapan dengan pemenang laga Perancis versus Swedia yang dijadwalkan di Philadelphia pada 4 Juli 2026. Sementara itu, Jerman harus menerima kegagalan yang mengakhiri kampanye mereka pada putaran pertama, menambah daftar kegagalan beruntun sejak kegagalan di Piala Dunia 2018 dan 2022.
Kejadian ini menjadi contoh nyata bahwa dalam sepak bola, dominasi statistik tidak selalu menjamin hasil akhir. Paraguay, yang masuk sebagai peringkat ke‑41 FIFA, berhasil menaklukkan empat kali juara dunia dengan mentalitas kuat, pertahanan disiplin, dan penampilan gemilang dari kiper muda Orlando Gill. Bagi Jerman, pelajaran berharga terletak pada pentingnya kesiapan mental dalam tekanan adu penalti serta kebutuhan untuk mengatasi keraguan internal di antara pemain senior.