Belanda Gempur Jalur Final Piala Dunia 2026, Rekor Emas Tembus Brasil dan Simbol Perdamaian dari Kenteng Ploso
Blog Berita daikin-diid – 22 Juni 2026 | Di tengah sorotan dunia, timnas Belanda menancapkan diri sebagai kandidat kuat untuk menembus final Piala Dunia 2026. Persaingan sengit di Grup F melibatkan Belanda, Jepang, Swedia, dan Tunisia, namun hingga putaran kedua Belanda berhasil memimpin klasemen berkat kemenangan telak 5-1 atas Swedia. Kemenangan tersebut tidak hanya menambah empat poin, tetapi juga meningkatkan selisih gol menjadi +4 dengan produktivitas tujuh gol, mengungguli Jepang yang mencatat enam gol dengan selisih gol serupa.
Keberhasilan ini membuka jalan potensial menuju perempat final yang relatif lebih ringan dibandingkan skenario runner‑up grup. Jika Belanda menjuarai Grup F, lawan pertama mereka di fase gugur akan datang dari peringkat kedua Grup C, saat ini dipegang Maroko. Jalur tersebut dapat berujung pada konfrontasi dengan pemenang duel Korea Selatan‑Swiss, dan selanjutnya kemungkinan besar akan bertemu Jerman di perempat final. Sementara itu, posisi runner‑up menempatkan Belanda langsung melawan juara Grup B yang dikuasai Brasil, mengundang tantangan berat sejak fase awal.
Penampilan gemilang Belanda tak lepas dari kontribusi pemain kunci. Denzel Dumfries, bek kanan yang dikenal agresif, mencatatkan dua assist dalam laga melawan Swedia, menjadi penyumbang utama pada tiga gol pertama tim. Ia memulai serangan dengan umpan tarik yang diikuti oleh Brian Brobbey pada menit kelima, kemudian kembali berperan pada menit 17, membantu Brobbey mencetak brace. Pada menit 47, Dumfries mengirim crossing tepat ke arah Cody Gakpo yang menambah keunggulan. Performanya mengulang prestasi serupa pada pertandingan kualifikasi EURO 2024 melawan Yunani, di mana ia juga memberikan dua assist.
Sementara itu, Cody Gakpo tampil sebagai man of the match. Ia menyumbang dua gol dan satu assist dalam pertandingan yang sama. Gakpo membuka skor melalui assistnya kepada Brobbey, kemudian menambah gol pertama Belanda pada menit 17 melalui tap‑in dari Dumfries. Brace Gakpo datang pada menit 54, menegaskan dominasi Belanda di lini serang. Penampilannya konsisten sejak kualifikasi, termasuk dua gol dan satu assist melawan Lithuania pada November 2025, serta peran krusial dalam kemenangan 3‑1 melawan Amerika Serikat di Piala Dunia 2022.
Keberhasilan serangkaian laga ini menambah satu babak lagi dalam sejarah panjang tak terkalahkan Belanda di Piala Dunia. Setelah mengalahkan Swedia 5‑1, tim “Kincir Angin” mencatatkan rekor 14 pertandingan beruntun tanpa kekalahan, memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Brasil pada era 1958‑1962. Rekor ini menegaskan dominasi Belanda sejak kegagalan di final 2010 melawan Spanyol, dimana sejak saat itu mereka tidak mengalami kekalahan dalam waktu reguler pada turnamen dunia.
Namun, kisah Belanda tidak hanya terbatas pada lapangan hijau. Di Kediri, Jawa Timur, simbolik transformasi warisan Belanda muncul dalam bentuk Kenteng Ploso, sebuah alat penanda waktu yang asalnya merupakan bom aktif militer Belanda yang tidak meledak pada masa perjuangan kemerdekaan. Bom tersebut kemudian dimodifikasi menjadi kenteng, alat musik logam yang kini dipakai untuk menandai shalat, pengajian, dan bahkan pembukaan Munas‑Konbes Nahdlatul Ulama 2026. KH Abdussalam Shohib menjelaskan bahwa proses mengubah senjata menjadi instrumen damai mencerminkan filosofi Islam yang mengubah mudarat menjadi maslahat, sekaligus menegaskan kembali bahwa barang netral dapat dimanfaatkan untuk kebaikan.
Penggunaan Kenteng Ploso dalam Munas‑Konbes menambah dimensi kebangsaan dan spiritual pada narasi Belanda di Indonesia. Sementara di panggung global, Belanda mengukir sejarah baru, keduanya mencerminkan kemampuan bangsa ini mengubah tantangan menjadi peluang, baik di bidang olahraga maupun budaya.
Ke depan, tantangan terbesar Belanda tetap menanti di fase knockout, terutama jika harus berhadapan dengan Brasil atau Jerman. Namun, dengan dukungan pemain berkelas seperti Dumfries dan Gakpo, serta mentalitas tak terkalahkan yang terus terasah, Belanda berada pada posisi yang menguntungkan untuk melaju hingga final. Di luar lapangan, warisan simbolik Kenteng Ploso mengingatkan bahwa perubahan positif dapat lahir dari benda-benda yang dulunya menjadi ancaman, menginspirasi generasi muda untuk melihat potensi di balik sejarah kelam.
Kesimpulannya, Belanda kini menempati posisi strategis dalam Piala Dunia 2026, memadukan performa teknis unggul dengan warisan budaya yang menegaskan nilai transformasi dan perdamaian. Jika konsistensi ini terjaga, Belanda berpeluang besar mengukir gelar juara pertama sejak 1978, sekaligus menambah babak gemilang dalam sejarah sepak bola internasional.