Ruud Gullit Kaget: Dukungan Fan Kanada Buktikan Keberagaman, Sementara Penentang Imigrasi Dikecam
Blog Berita daikin-diid – 13 Juni 2026 | Legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit, muncul sebagai tamu istimewa di program BeIN Sports pada Jumat malam untuk mengulas laga persahabatan antara Kanada dan Bosnia & Herzegovina yang berakhir imbang 1-1. Selain menilai taktik kedua tim, Gullit memanfaatkan kesempatan itu untuk menyuarakan pandangannya tentang keragaman etnis dalam olahraga dan menanggapi isu imigrasi yang kian memanas di banyak negara.
Gullit menyoroti fakta bahwa lebih dari separuh skuad Kanada yang berkompetisi dalam pertandingan tersebut berkulit hitam, menegaskan bahwa para pemain datang ke tanah maple dengan latar belakang yang beragam. “Mereka semua datang ke Kanada karena berbagai alasan,” ujarnya. Menurutnya, keberagaman ini tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi juga tercermin dalam semangat para pendukung yang menyanyikan lagu, mengibarkan bendera, dan memberikan sorakan tanpa memandang warna kulit atau asal negara pemain.
Pengalaman pribadi Gullit sebagai orang Belanda berkulit campuran menambah kedalaman komentar tersebut. Ia mengungkapkan bahwa meski ibunya berkulit putih, ia sering dipandang sebagai orang kulit hitam oleh publik. “Saya merasakan perlakuan berbeda karena penampilan saya,” katanya. Pengakuan ini menjadi landasan bagi Gullit untuk menentang diskriminasi berbasis ras dan menolak retorika anti-imigran yang ia nilai menyakitkan bagi banyak komunitas.
Dalam nada tegas, Gullit menyatakan rasa jijiknya terhadap mereka yang berupaya mengurangi imigrasi atau hanya menyukai penggemar dari satu negara tertentu. “Itu menyakitkan, dan saya merasa sebagai orang Belanda, meski penampilan saya berbeda,” tegasnya. Ia menegaskan bahwa menutup pintu bagi migran tidak hanya menyalahi nilai kemanusiaan, tetapi juga mengikis semangat inklusif yang menjadi inti dari olahraga modern.
Gullit menutup pernyataannya dengan pujian tulus kepada Kanada sebagai contoh negara yang berhasil merangkul para migran. “Orang Kanada sendiri dulu pernah menjadi migran. Saya sangat senang melihat mereka merayakan keberagaman dan bahkan berhasil mengamankan satu poin dalam pertandingan,” katanya. Ia menekankan bahwa dukungan fanatik terhadap tim nasional tidak seharusnya menjadi ajang politik, melainkan menjadi cerminan kebanggaan akan identitas multikultural yang kuat.
Kesimpulannya, komentar Gullit tidak hanya mencerminkan kepeduliannya terhadap dinamika sosial di luar lapangan, tetapi juga menegaskan peran penting olahraga sebagai platform untuk mempromosikan toleransi dan persatuan. Dengan menyoroti contoh nyata dari Kanada, Gullit berharap lebih banyak negara akan mengikuti jejaknya, menjadikan sepak bola sebagai bahasa universal yang melampaui batas-batas ras, agama, dan kebangsaan.