Waspada Saat Nonton GP: Pakar Jelaskan Bahaya Distraksi di Jalan Raya
Blog Berita daikin-diid – 09 Juni 2026 | Menikmati balapan MotoGP di layar ponsel atau tablet memang mengasyikkan, terutama bagi penggemar sejati yang tak ingin ketinggalan aksi-aksi menegangkan para pembalap. Namun, kebiasaan menonton Grand Prix sambil mengemudi dapat menimbulkan risiko fatal. Jusri Pulubuhu, pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengingatkan bahwa menggabungkan hiburan visual dengan kegiatan mengemudi merupakan salah satu bentuk distraksi yang paling berbahaya.
Menurut Jusri, terdapat lima kategori utama distraksi yang dapat memicu kecelakaan. Ia mengemasnya dalam akronim berbahasa Inggris “REAL MAN SLEEP IN UNDERWEAR” untuk memudahkan ingatan. Berikut penjabaran singkatnya:
- Route – Gangguan yang berhubungan dengan pencarian rute, terutama di wilayah yang belum dikenal.
- Emotional – Masalah emosional seperti stres keuangan, urusan keluarga, atau tekanan pekerjaan yang mengganggu konsentrasi.
- Activity – Aktivitas tambahan seperti menelpon, mengirim pesan, atau menonton video.
- Logical – Pengambilan keputusan yang tergesa‑gesa akibat kondisi jalan atau perilaku pengendara lain.
- Modal – Gangguan visual yang berasal dari lingkungan sekitar, seperti iklan terang atau cahaya kendaraan lain.
Menonton balapan GP termasuk dalam kategori Activity sekaligus Modal. Visual yang bergerak cepat, suara berdesir, dan statistik yang terus berubah dapat menyita perhatian pengemudi secara signifikan. Seiring dengan meningkatnya popularitas streaming langsung melalui aplikasi, banyak pengemudi yang tergoda menonton balapan sambil melaju di jalan raya.
Jusri menegaskan bahwa mengemudi bukanlah aktivitas sekunder yang dapat dipadukan dengan pekerjaan atau hiburan lain. “Mengemudi menuntut fokus 100 %. Setiap detik yang teralihkan bisa menjadi titik kritis,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas.com pada 7 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa distraksi visual dan mental tidak hanya meningkatkan peluang terjadinya kecelakaan, tetapi juga memperparah konsekuensi ketika kecelakaan terjadi.
Data kepolisian menunjukkan bahwa pada tahun 2025 terdapat peningkatan 12 % kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengemudi yang menggunakan perangkat seluler untuk menonton video. Sebagian besar insiden terjadi pada jam-jam sibuk, ketika konsentrasi pengemudi sudah teruji oleh kondisi lalu lintas yang padat.
Untuk mengurangi risiko, Jusri mengusulkan beberapa langkah praktis:
- Matikan semua aplikasi video sebelum memulai perjalanan.
- Jika ingin menonton rekaman GP, pilih waktu berhenti di tempat yang aman, seperti area istirahat atau parkir.
- Gunakan fitur “Do Not Disturb” pada ponsel agar panggilan dan notifikasi tidak mengganggu.
- Jika informasi rute diperlukan, manfaatkan sistem navigasi suara yang tidak memaksa pengemudi menatap layar.
- Berlatih teknik defensive driving untuk meningkatkan kesadaran situasional.
Selain langkah-langkah teknis, edukasi publik menjadi kunci utama. JDDC secara rutin mengadakan workshop bagi komunitas pengendara, termasuk para fans MotoGP, untuk menumbuhkan budaya mengemudi yang aman. Salah satu program unggulan mereka adalah simulasi mengemudi sambil menonton video, yang memperlihatkan secara real time berapa lama respon pengemudi menurun ketika fokus teralihkan.
Penggemar MotoGP juga dapat menyalurkan antusiasme mereka melalui cara alternatif, seperti menonton balapan di rumah atau di tempat menonton bersama teman setelah selesai mengemudi. Dengan begitu, mereka tetap dapat menikmati aksi seru tanpa mengorbankan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Kesimpulannya, menonton Grand Prix memang menggembirakan, namun tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan prinsip dasar keselamatan berkendara. Mengikuti panduan anti‑distraksi yang telah dirumuskan oleh pakar seperti Jusri Pulubuhu dapat menyelamatkan nyawa dan menjadikan pengalaman berkendara lebih aman serta nyaman bagi semua pihak.