Kejutan Besar di French Open: Jannik Sinner Tersingkir di Babak Kedua, Dampak Besar bagi Dunia Tenis
Blog Berita daikin-diid – 29 Mei 2026 | Jannik Sinner, pemain tenis asal Italia yang menduduki peringkat nomor satu dunia, mengalami kekalahan mengejutkan pada babak kedua French Open 2024 melawan pemain Argentina, Juan Manuel Cerúndolo. Kekalahan ini tidak hanya menandai salah satu upset terbesar dalam sejarah tenis modern, tetapi juga menorehkan dua catatan historis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelum turnamen dimulai, Sinner dijadikan favorit utama dengan odds -300 untuk merebut gelar, sebuah nilai yang hanya pernah diungguli oleh Rafael Nadal pada Roland Garros 2009 dengan odds -400. Pada saat yang sama, taruhan pra-turnamen menempatkan Sinner sebagai pemain dengan peluang menang hampir pasti, dengan odds DraftKings mencapai -50000, setara dengan probabilitas kemenangan 99,8 persen. Kepercayaan tinggi ini terbentuk setelah Sinner mengakhiri musim clay dengan performa dominan dan memperpanjang rekor kemenangan beruntun menjadi 30 pertandingan, termasuk kemenangan di babak pertama French Open.
Pertandingan melawan Cerúndolo dimulai dengan dominasi Sinner. Ia memimpin 6-3, 6-2, 5-1 sebelum suhu panas Paris yang ekstrim mulai memengaruhi kondisi fisiknya. Pada set ketiga, Sinner mengalami kejang pada otot quadriceps kanannya, yang membuatnya kehilangan mobilitas dan ritme servis. Kesalahan demi kesalahan terjadi: ia double fault saat melayani untuk menutup set, kemudian kembali dipecah servisnya. Pada set keempat, Sinner sempat memperoleh break point, namun tidak mampu memanfaatkannya. Cerúndolo kemudian mengamankan 18 dari 20 game terakhir, menutup pertandingan dengan skor 3-6, 2-6, 7-5, 6-1, 6-1.
Kekalahan Sinner membuka peluang besar bagi pemain lain. Tanpa kehadiran dua petarung utama—Sinner yang tersingkir dan Carlos Alcaraz yang absen karena cedera—turnamen menjadi arena kompetisi terbuka. Statistik menunjukkan bahwa sejak 2019, sembilan turnamen Grand Slam berurutan dimenangkan oleh Sinner atau Alcaraz; kekalahan ini mengakhiri streak tersebut. Sekarang, nama-nama seperti Alexander Zverev dan Novak Djokovic kembali menjadi sorotan utama sebagai kandidat kuat untuk mengklaim gelar.
Sementara sorotan utama berada pada hasil pertandingan, reaksi pribadi Sinner juga menjadi bagian penting dari cerita. Pasangannya, Laila Hasanovic, mengungkapkan dukungannya melalui cerita Instagram, menyatakan kebetulan ia berada di Kopenhagen pada saat itu karena urusan pekerjaan. Meskipun tidak menyaksikan pertandingan secara langsung, Hasanovic menyatakan keprihatinannya dan memberi semangat kepada Sinner, menyoroti betapa sulitnya menerima kekalahan di panggung sebesar Grand Slam.
Reaksi publik terhadap kegagalan Sinner pun beragam. Banyak penggemar tenis mengkritik faktor cuaca sebagai penyebab utama, sementara yang lain menyoroti tekanan mental yang dihadapi oleh pemain nomor satu dunia. Beberapa analis menilai bahwa ketidakmampuan Sinner mengelola energi di tengah suhu tinggi menandai titik lemah yang perlu diperbaiki, terutama mengingat jadwal pertandingan yang padat pada permukaan tanah liat.
Dalam konteks lebih luas, kekalahan ini menambah narasi tentang ketidakpastian dalam tenis modern, di mana satu hari saja seorang favorit dengan odds hampir pasti dapat terkejut oleh pemain yang berada di peringkat jauh lebih rendah. Hal ini menggarisbawahi pentingnya persiapan fisik, mental, dan strategi adaptif terhadap kondisi lapangan yang berubah-ubah.
Ke depan, Sinner masih memiliki kesempatan untuk bangkit kembali di sirkuit ATP lainnya. Namun, kekalahan ini akan menjadi pelajaran penting dalam menyeimbangkan ambisi dengan kebugaran tubuh, terutama pada turnamen dengan tantangan iklim ekstrim seperti French Open.
Dengan Sinner keluar lebih awal, turnamen ini kini menjadi medan persaingan terbuka yang dapat mengubah peta peringkat dunia tenis pada akhir musim 2024.