Stagflasi, Rupiah Merosot, dan Gelombang PHK: Ancaman Besar bagi Tenaga Kerja Indonesia
Blog Berita daikin-diid – 28 Mei 2026 | Indonesia kini berada pada persimpangan ekonomi yang berisiko tinggi. Kelemahan nilai tukar rupiah, inflasi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, serta penurunan kepercayaan publik telah menciptakan kondisi stagflasi yang mengancam stabilitas pasar kerja.
Presiden Direktur KAO Indonesia, Shoichi Hasegawa, menyoroti dua masalah utama: melemahnya rupiah yang menyentuh level hampir Rp18.000 per dolar AS dan penurunan permintaan konsumen. “Jika konsumen hanya membeli barang murah, pertumbuhan ekonomi akan mandek kecuali volume bertambah,” ujarnya dalam wawancara dengan media asing. Kenaikan harga bahan baku, terutama nafta dan turunan minyak, memperburuk beban produksi perusahaan manufaktur, termasuk produk deterjen dan kebutuhan rumah tangga.
Kondisi ini berujung pada keputusan perusahaan untuk memangkas tenaga kerja. Pada akhir Mei 2026, PT Combine Will Industrial Indonesia (CWII) di Sragen menghentikan kontrak 1.600 pekerja pabrik mainan plastik setelah harga bahan baku plastik melambung akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Manajemen mengakui bahwa beban operasional menjadi tidak seimbang dan kontrak enam bulanan tidak dapat diperpanjang.
Penurunan tenaga kerja tidak terbatas pada sektor manufaktur. Di sektor logistik, seorang mantan pegawai PT Cipta Niaga Semesta, Yoga Julianta, mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi atas pasal-pasal UU Cipta Kerja yang mengatur lembur. Ia menilai bahwa ketentuan Pasal 153 ayat (1) tidak memberikan perlindungan bagi pekerja yang menolak lembur, membuka peluang pemutusan hubungan kerja secara sepihak.
Data kurs e‑Rate Bank Central Asia pada 28 Mei 2026 mencatat nilai tukar beli Rp 17.730 dan jual Rp 17.850 per dolar AS. Tekanan nilai tukar meningkatkan biaya impor, terutama bahan baku penting bagi industri kimia dan plastik. Bank Indonesia pun terpaksa menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, namun dampaknya belum terasa signifikan pada stabilisasi rupiah.
Pemerintah menanggapi ancaman PHK dengan sejumlah kebijakan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperpanjang program Work From Home (WFH) selama dua bulan ke depan, berharap mengurangi beban operasional perusahaan dan menstimulasi produktivitas tanpa harus memotong tenaga kerja. Selain itu, program Magang Nasional akan digencarkan dengan target 150.000 peserta, sementara program vokasi nasional menyiapkan 220.000 lulusan SMK dan 50.000 pekerja terdampak PHK untuk pelatihan ulang.
- Faktor eksternal: konflik geopolitik, harga minyak dan plastik naik.
- Faktor internal: rupiah melemah, kepercayaan investor menurun.
- Dampak langsung: PHK massal di Sragen, risiko PHK di sektor lain.
- Respon kebijakan: kenaikan suku bunga, WFH, program magang dan vokasi.
Secara keseluruhan, kombinasi stagflasi, nilai tukar yang tidak stabil, dan regulasi ketenagakerjaan yang masih dipertanyakan menimbulkan risiko pemutusan hubungan kerja secara luas. Upaya pemerintah untuk menstabilkan ekonomi makro dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja menjadi kunci dalam mencegah krisis sosial ekonomi yang lebih dalam.