IHSG Anjlok 3,46%: Rumor Ekspor, Kebijakan Suku Bunga, dan Saham Pilihan yang Tetap Menguat
Blog Berita daikin-diid – 19 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menapaki jalur penurunan pada sesi perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Setelah membuka hari di level 6.599,21, indeks tersebut meluncur hingga menutup pada 6.370,68, mencatat penurunan sebesar 3,46% atau 228,56 poin. Penurunan ini menandai kelanjutan koreksi yang telah berlangsung sejak awal minggu, sekaligus menurunkan nilai IHSG ke kisaran 6.350-6.400, sekitar 29% di bawah rekor tertinggi (ATH) 9.134 yang tercapai pada 20 Januari 2026.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi harian mencapai Rp25,075 triliun dengan volume sebesar 45,516 miliar lembar saham, sementara frekuensi transaksi tercatat 2.794.543 kali. Dari total 758 saham yang bertransaksi, mayoritas, yaitu 612 saham, mengalami tekanan jual, hanya 112 saham yang berhasil menguat, dan 94 saham tetap stagnan. Kapitalisasi pasar bursa pun menyusut menjadi Rp11,132,821 triliun.
Tekanan jual utama dipicu oleh rumor yang beredar mengenai rencana pemerintah membentuk badan khusus untuk mengatur ekspor komoditas strategis, termasuk batu bara, crude palm oil (CPO), dan mineral logam. Rumor ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor terkait kemungkinan pembatasan ekspor yang dapat menggerus margin keuntungan perusahaan, terutama di sektor basic material yang mengalami penurunan hingga 7,3%. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan, meski tipis, sebesar 0,55%.
Selain faktor domestik, sentimen global turut menekan IHSG. Harga minyak dunia melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan drone yang menyebabkan kebakaran di pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab. Kenaikan harga energi meningkatkan tekanan inflasi global, memicu penurunan indeks saham utama di Asia seperti Nikkei 225 (–0,97%), Hang Seng (–1,11%), CSI 300 (–0,54%) dan Taiex (–0,68%). Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan mencatat kenaikan 0,31%, menambah kontras pasar regional.
Rupiah juga ikut tertekan, melemah hingga Rp17.706 per dolar AS, turun 38 poin atau 0,22% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pasar kini menantikan keputusan Bank Indonesia terkait kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) yang diprediksi akan naik 25 basis poin menjadi 5%, sebagai upaya menahan pelemahan nilai tukar.
Di tengah penurunan umum, beberapa emiten berhasil mencatatkan penguatan signifikan. Saham LCKM, RELI, dan ASPR melaju naik meski indeks utama tetap tertekan, menandakan adanya peluang bagi investor yang mencari nilai relatif. Data perdagangan juga mencatat bahwa nilai transaksi harian mencapai Rp25,78 triliun dengan volume 43,30 juta saham, menegaskan tingginya likuiditas meskipun pasar berada dalam fase koreksi.
Pengamatan para analis menyoroti potensi rebound jangka pendek. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, memperkirakan IHSG dapat mengalami rebound teknikal setelah mengalami lima hari berturut-turut dalam koreksi. Sementara Phintraco Sekuritas menekankan bahwa keputusan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi faktor kunci yang dapat memicu pergerakan pasar selanjutnya.
Pada siang hari, tim kepresidenan dan regulator pasar, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari Dewi (Kiki), CEO BPI Danantara dan Menteri Investasi serta Hilirisasi/BKPM Rosan Roeslani, serta Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria, melakukan kunjungan ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Kunjungan ini menandakan perhatian tinggi pemerintah terhadap situasi pasar yang tengah bergejolak, meskipun belum ada pernyataan resmi mengenai tujuan kunjungan.
Secara keseluruhan, dinamika IHSG pada 19 Mei 2026 mencerminkan kombinasi tekanan internal berupa kebijakan ekspor dan ekspektasi suku bunga, serta tekanan eksternal dari geopolitik dan sentimen pasar global. Investor diharapkan tetap waspada, memperhatikan sektor-sektor yang masih menunjukkan kekuatan relatif, serta mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah dan keputusan moneter yang dapat memberikan arah baru bagi pasar saham Indonesia.