Dollar Stabil di Tengah Ketegangan: Dari Penundaan Serangan Iran hingga Negosiasi Sanksi
Blog Berita daikin-diid – 19 Mei 2026 | Pasar mata uang global memperlihatkan pergerakan signifikan pada awal pekan ini, dengan dolar AS menemukan dukungan setelah serangkaian perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan penundaan serangan yang direncanakan terhadap Iran, sebuah keputusan yang meredakan kekhawatiran eskalasi konflik di Teluk Persia. Keputusan tersebut, yang disampaikan dalam sebuah konferensi pers, menurunkan ekspektasi pasar akan ketegangan militer lebih lanjut dan memberikan ruang bagi diplomasi.
Dolar indeks, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, tetap pada level 99,026 pada awal perdagangan Asia. Angka tersebut menunjukkan penurunan 0,3% pada hari Senin, memutuskan tren kenaikan selama lima hari berturut-turut. Analis Westpac mencatat bahwa sentimen pasar stabil setelah laporan bahwa Trump memanggil kembali rencana serangan, yang diikuti oleh permintaan pemimpin negara-negara Teluk untuk menahan konflik.
Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun Amerika turun tiga basis poin menjadi 4,591%, setelah sebelumnya mencapai puncak tahunan tertinggi karena kekhawatiran inflasi. Penurunan ini mencerminkan pasar yang mulai melonggarkan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut, meskipun Federal Reserve masih diprediksi akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 9 Desember, dengan probabilitas 36,2% menurut FedWatch CME.
Pasar energi turut memengaruhi dinamika dolar. Harga Brent turun 2,4% menjadi US$109,43 per barel, setelah laporan bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan menghapus sanksi terhadap minyak mentah Iran. Al Arabiya mengonfirmasi adanya kesepakatan antara Tehran dan Washington untuk membekukan program nuklir Iran dalam jangka panjang, bukan pembongkaran total. Penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi impor, yang selanjutnya memperlemah daya tarik dolar sebagai safe haven.
Di sisi lain, dolar menguat terhadap mata uang lain pada minggu sebelumnya, dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi dan penjualan obligasi global. Euro diperdagangkan stabil di US$1,1650, sementara pound Inggris mengalami penurunan ringan menjadi US$1,3427. Dolar juga menguat melawan yen Jepang, meski pada hari Selasa berada pada level 158,895 yen setelah data PDB kuartal pertama Jepang menunjukkan pertumbuhan tahunan 2,1%, melampaui perkiraan 1,7%.
Bank Sentral Jepang dan Kementerian Keuangan terus memantau volatilitas nilai tukar, dengan Menteri Keuangan Satsuki Katayama menegaskan kesiapan pemerintah untuk intervensi bila diperlukan, sambil berupaya tidak meningkatkan imbal hasil Treasury AS. Data terbaru menunjukkan Jepang telah menghabiskan hampir 10 triliun yen (sekitar US$63 miliar) sejak memulai intervensi pembelian yen pada akhir April.
Di pasar Asia, yen melemah 0,2% menjadi 159 per dolar, mencatat titik terlemah sejak akhir April. Sementara itu, dolar melawan yuan offshore tetap stabil di 6,798. Di pasar aset digital, Bitcoin naik tipis 0,2% menjadi US$77.006, dan Ether naik 0,8% menjadi US$2.132.
Para pelaku pasar juga mengamati pergeseran ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Meskipun sebelumnya pasar memperkirakan peluang rendah bagi kenaikan suku bunga, kini probabilitas kenaikan pada akhir tahun melampaui 50%, dipicu oleh tekanan inflasi yang dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Analis Commerzbank, Michael Pfister, mencatat bahwa pergeseran ini paling terasa di negara-negara G10, dimana investor menilai bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi semakin mungkin.
Secara keseluruhan, dolar AS berada pada posisi yang relatif stabil meskipun menghadapi tekanan dari dua arah: geopolitik yang meredup berkat penundaan serangan Iran, dan potensi pengurangan sanksi yang menurunkan harga energi. Kedua faktor ini memberikan ruang napas bagi pasar untuk menilai kembali risiko dan mengatur eksposur terhadap dolar. Dengan Federal Reserve menyiapkan kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun, serta dinamika nilai tukar yen dan euro yang terus berfluktuasi, dolar diproyeksikan akan tetap menjadi mata uang acuan utama dalam beberapa bulan mendatang.
Kesimpulannya, kombinasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat, perkembangan sanksi Iran, serta ekspektasi kebijakan moneter domestik menciptakan lanskap yang kompleks bagi pergerakan dolar. Investor disarankan untuk terus memantau sinyal politik dan data ekonomi global, khususnya yang berkaitan dengan energi dan inflasi, untuk mengantisipasi perubahan nilai tukar di masa depan.