Dollar Menghadapi Tekanan Global: Kenaikan Singkat, Ancaman Euro, dan Kebijakan Amerika Serikat
Blog Berita daikin-diid – 14 Mei 2026 | Pasar mata uang internasional menunjukkan dinamika yang semakin kompleks di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan domestik Amerika Serikat. Pada minggu ini, dolar AS mencatat kenaikan satu minggu tertinggi setelah munculnya ketidakpastian di Timur Tengah serta data inflasi AS yang menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi. Sementara itu, para pengamat menilai bahwa dominasi dolar yang selama lebih dari delapan dekade menjadi mata uang cadangan utama dunia mulai mengalami erosi, membuka peluang bagi euro untuk memperluas pangsa pasar.
Dalam laporan “Declining Dollar Dominance: Potential Euro Gains”, dijelaskan bahwa meski dolar diperkirakan tetap menjadi mata uang utama selama bertahun‑tahun, keunggulannya tidak lagi terjamin. Kebijakan moneter yang tidak konsisten, peningkatan utang nasional, dan tekanan pada independensi Federal Reserve mengancam status dolar sebagai penopang utama sistem keuangan global. Pada saat yang sama, fragmentasi ekonomi dunia menjadi blok‑blok geopolitik menambah beban bagi dolar, sementara zona euro memiliki kesempatan langka untuk merebut bagian lebih besar dari “exorbitant privilege” yang selama ini dinikmati Amerika.
Sejarah menunjukkan bahwa sejak akhir 1990‑an, pangsa dolar dalam cadangan internasional turun dari 61,6% menjadi sekitar 55% pada 2025. Selama periode yang sama, euro meningkat dari 18% menjadi puncaknya 27,7% pada 2009, namun kemudian turun kembali menjadi kisaran 19‑21% setelah krisis zona euro 2011‑2012. Data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
| Tahun | Pangsa Dollar (%) | Pangsa Euro (%) |
|---|---|---|
| 1999 | 61,6 | 18,0 |
| 2009 | 57,8 | 27,7 |
| 2015 | 55,0 | 19,0 |
| 2025 | 55,2 | 20,5 |
Penurunan pangsa dolar sebagian besar berpindah ke mata uang lain, termasuk pound sterling, yuan, serta dolar Kanada dan Australia, yang masuk dalam kategori “mata uang lain”. Kenaikan penggunaan yuan dipercepat oleh inisiatif infrastruktur pembayaran lintas‑batas CIPS (Cross‑Border Interbank Payment System) yang dibangun oleh China, serta upaya BRICS+ yang kini mencakup 45% populasi dunia dan hampir 27% PDB global. Hal ini menandakan potensi pengalihan transaksi perdagangan dan cadangan dari dolar ke mata uang alternatif.
Sementara itu, laporan pasar keuangan menyoroti bahwa dolar kembali menguat karena gejolak di Timur Tengah dan data inflasi AS yang menunjukkan tekanan harga yang belum mereda. Investor beralih ke dolar sebagai safe‑haven di tengah konflik regional, sementara ketidakpastian kebijakan Federal Reserve mengenai suku bunga menambah volatilitas pasar. Meskipun demikian, para analis memperingatkan bahwa penguatan ini bersifat sementara jika tidak diiringi dengan kebijakan fiskal dan moneter yang kredibel.
Di dalam konteks domestik, mantan presiden Donald Trump sebelumnya mengkritik kredibilitas dolar, menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan dukungan politik terhadap kebijakan moneter. Kritik tersebut menambah lapisan keraguan atas kemampuan Amerika mempertahankan dominasi dolar tanpa adanya reformasi struktural, termasuk peningkatan transparansi pasar obligasi pemerintah AS dan penegakan independensi bank sentral.
Kesimpulannya, dolar AS berada pada persimpangan penting antara kekuatan tradisional dan tantangan baru. Kenaikan singkat yang dipicu oleh faktor eksternal tidak cukup untuk mengembalikan dominasi yang telah tergerus oleh fragmentasi geopolitik, persaingan mata uang alternatif, serta kelemahan kebijakan domestik. Euro, meski masih tertinggal, memiliki peluang untuk meningkatkan peranannya jika kawasan euro dapat mengembangkan pasar obligasi yang lebih dalam dan aman. Di sisi lain, kebijakan Federal Reserve dan strategi fiskal Amerika akan menjadi penentu utama apakah dolar dapat mempertahankan posisinya sebagai mata uang cadangan utama dunia di dekade mendatang.