Mengenang James F. Sundah: Legenda Musik Indonesia Tutup Usia 70 Tahun di New York
Blog Berita daikin-diid – 10 Mei 2026 | Jakarta, 9 Mei 2026 – Dunia musik Indonesia berduka setelah komposer ternama James F. Sundah menghembuskan napas terakhirnya di New York pada usia 70 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh istri tercinta, Lia Sundah Suntoso, serta disampaikan oleh sahabat lama, presenter dan musisi Tantowi Yahya, yang menerima informasi langsung dari keluarga almarhum.
James F. Sundah telah berjuang melawan kanker paru-paru selama dua tahun terakhir. Penyakit ini pertama kali terdiagnosa pada awal 2024 ketika dokter menemukan bercak kabut pada paru-parunya, yang kemudian teridentifikasi sebagai stadium tiga. Selama masa perawatan, ia menjalani kemoterapi intensif dan sempat mengalami penyebaran sel kanker ke hati dan tulang. Meski begitu, James tetap berusaha menjaga semangat, bahkan sempat menikmati waktu singkat di taman bersama istri dan mengonsumsi makanan ringan sebelum kondisinya memburuk.
Menurut Lia, pada hari-hari terakhir James hanya dapat bertahan kurang dari seminggu. “Saya belum siap kehilangan James,” ungkapnya dalam percakapan telepon yang emosional. Kematian James terjadi pada subuh 7 Mei 2026 waktu setempat, tepatnya pukul 11.00 WIB, setelah tim medis di rumah sakit terbaik New York menyatakan bahwa harapan kesembuhan sudah tidak ada.
Sebagai pencipta lagu legendaris, James F. Sundah telah menorehkan jejak abadi dalam industri musik Tanah Air. Karya-karyanya tidak hanya menjadi soundtrack generasi, melainkan juga menjadi simbol harapan dan ketabahan. Berikut beberapa lagu ikonik yang diciptakan olehnya:
- “Lilin-Lilin Kecil” – dibawakan oleh Chrisye, menjadi anthem harapan di tengah kegelapan.
- “September Ceria” – kolaborasi dengan Vina Panduwinata yang menandai era musik pop ceria pada awal 1980-an.
- “Astaga” – lagu yang menampilkan kepiawaian dalam menggabungkan melodi tradisional dengan aransemen modern.
- “When You Came Into My Life” – kolaborasi internasional bersama Titiek Puspa untuk grup rock Jerman Scorpions.
Selain itu, James juga dikenal sebagai mentor bagi banyak musisi muda, memberikan dukungan kreatif dan inspirasi melalui workshop serta seminar. Karyanya terus diputar di radio, televisi, dan platform digital, membuktikan bahwa warisan musikalnya tetap relevan di era digital.
Reaksi dari kalangan musik pun mengalir deras. Tantowi Yahya, yang telah lama bersahabat dengan James, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. “James bukan hanya pencipta lagu, ia adalah sahabat, mentor, dan sosok yang selalu menginspirasi lewat lirik yang penuh makna,” ujar Tantowi dalam pernyataan resmi. Beberapa artis seperti Raisa, Afgan, dan Glenn Fredly (meninggal pada 2020) juga menaruh penghormatan melalui media sosial, mengingatkan kembali betapa besar pengaruh James dalam membentuk identitas musik Indonesia.
Kematian James F. Sundah juga memunculkan diskusi tentang pentingnya deteksi dini kanker paru-paru, terutama di kalangan artis yang sering terpapar gaya hidup tidak sehat. James diketahui telah berhenti merokok sejak didiagnosis, namun kanker sudah menyebar ke organ lain. Pakar onkologi menekankan bahwa pemeriksaan rutin dan gaya hidup sehat dapat meningkatkan peluang penyembuhan.
Jenazah James akan dimakamkan di New York, sesuai keinginan keluarga. Meskipun tidak akan dibawa pulang ke Indonesia, keluarga berencana mengadakan upacara peringatan kecil di Jakarta untuk menghormati warisan budaya yang telah ditinggalkannya. Penggemar di seluruh negeri diharapkan dapat turut berpartisipasi dengan menyalakan lilin kecil di rumah masing‑masing sebagai simbol penghormatan.
Kepergian James F. Sundah meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi dalam industri musik. Namun, lirik‑liriknya yang sarat makna, melodi yang tak lekang oleh waktu, dan semangatnya yang pantang menyerah akan terus menginspirasi generasi selanjutnya. Sebagai penutup, mari kita kenang James tidak hanya sebagai pencipta lagu, melainkan sebagai sosok yang berhasil menyalakan cahaya harapan dalam setiap nada yang ia tuliskan.